OPER CINTA
Kaki mulusnya melangkah melewati pintu gerbang sekolah barunya, langkahnya nampak anggun bak putri raja. Ia melangkahkan kakinya dengan penuh rasa percaya diri, semua mata terpana melihat parasnya yang cantik seperti boneka Barbie selaras dengan seragamnya yang seksi dan sebuah senyuman manis yang selalu terpasang di bibir merah merekahnya. Kedatangannya benar – benar mengalihkan semua perhatian publik bahkan anak – anak cowok yang sedang bermain basket di lapangan sejenak menghentikan permainannya hanya karena terpukau melihat seorang putri yang sedang berjalan di lorong sekolah "buuukkkk…." Seseorang merusak adegan indah itu "aw…" rintih bidadari cantik itu karena ada sebuah bola basket yang mengenai lengannya. Dari lapangan terlihat seseorang berlari menghampirinya. Laki – laki itu mengambil bola miliknya yang tergeletak di hadapan bidadari tersebut, ia berdiri dan menatap bidadari itu seraya berkata "sorry sorry! loe enggak apa – apa kan?" dan bidadari itu menatap sinis laki – laki itu "menurut loe?" ujar Bidadari imut itu seraya meninggalkan laki – laki itu. Laki – laki itu menatap Bidadari baru di sekolahnya itu seraya tersenyum simpul "gila! Cantik banget tuh cewek!" ujar cowok berwajah oriental itu dalam hati.Bidadari misterius itu ternyata sekelas dengan laki – laki yang tadi pagi berhasil mebuat dirinya malu dan bete.
Bidadari misterius itu sudah berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan dirinya "hai semuanya! Perkenalkan nama gue Adinda Kirana Larasati dan gue biasa dipanggil Laras, gue dari SMAN 72. Semoga gue diterima dengan baik di sini ya!" perkenalan hangat Bidadari yang biasa disapa Laras itu dibumbui dengan senyuman manisnya "oh… nama loe Laras? Kenalin juga nama gue Devhan Adinathan Prayoga dan biasa dipanggil Devhan. Loe udah diterima dengan sangat baik kok di sini, bener enggak guys?" sahut cowok berwajah oriental itu dengan suara lantang penuh rasa percaya diri seraya berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum lebar "beneeerrrr….!" Suara anak – anak cowok sekelas terdengar kompak seperti paduan suara. Laras tersenyum simpul ke arah semua anak di kelas, kemudian menatap Devhan dengan sinis "jadi cowok yang udah bikin pagi gue menyebalkan itu namanya Devhan?" gumam cewek berkulit putih itu seraya menatap Devhan yang masih sibuk tebar pesona di hadapannya.
Laras duduk di belakang jauh dari Devhan dan ia duduk bersebelahan dengan cewek manis bernama Angel "Angel istirahat gue boleh enggak gabung sama loe?" tanya cewek bertubuh tinggi dan langsing itu seraya tersenyum "boleh donk! Kenapa enggak?" jawab Angel dengan sigap "thanks ya, oh ya loe tau enggak ketua tim cheers di sekolah ini?" sahut Laras kembali bertanya "tau donk, secara gue anak cheers juga. Emang kenapa gitcu cinta?" jawab Angel dengan gaya petakilannya yang khas "loe anak cheers? Kebetulan donk kalo gitu? Gue mau gabung di tim loe kira – kira masih diterima enggak ya?" sahut Laras dengan ekspresi ceria "emang loe bisa cheers?" tanya Angel "iya kebetulan gue mantan ketua cheers di SMA gue yang lama" papar Laras dengan rendah hati "oh ya? Bagus donk? Kebetulan banget kita emang lagi butuh orang, jadi mendingan loe buru – buru gabung aja deh sama kita!" ujar Angel tersentak "oke! Kebetulan yang menyenangkan ya? Loe mau kan temenin gue nemuin ketua loe?" Laras tersenyum lebar.
Bidadari misterius itu sudah berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan dirinya "hai semuanya! Perkenalkan nama gue Adinda Kirana Larasati dan gue biasa dipanggil Laras, gue dari SMAN 72. Semoga gue diterima dengan baik di sini ya!" perkenalan hangat Bidadari yang biasa disapa Laras itu dibumbui dengan senyuman manisnya "oh… nama loe Laras? Kenalin juga nama gue Devhan Adinathan Prayoga dan biasa dipanggil Devhan. Loe udah diterima dengan sangat baik kok di sini, bener enggak guys?" sahut cowok berwajah oriental itu dengan suara lantang penuh rasa percaya diri seraya berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum lebar "beneeerrrr….!" Suara anak – anak cowok sekelas terdengar kompak seperti paduan suara. Laras tersenyum simpul ke arah semua anak di kelas, kemudian menatap Devhan dengan sinis "jadi cowok yang udah bikin pagi gue menyebalkan itu namanya Devhan?" gumam cewek berkulit putih itu seraya menatap Devhan yang masih sibuk tebar pesona di hadapannya.
Laras duduk di belakang jauh dari Devhan dan ia duduk bersebelahan dengan cewek manis bernama Angel "Angel istirahat gue boleh enggak gabung sama loe?" tanya cewek bertubuh tinggi dan langsing itu seraya tersenyum "boleh donk! Kenapa enggak?" jawab Angel dengan sigap "thanks ya, oh ya loe tau enggak ketua tim cheers di sekolah ini?" sahut Laras kembali bertanya "tau donk, secara gue anak cheers juga. Emang kenapa gitcu cinta?" jawab Angel dengan gaya petakilannya yang khas "loe anak cheers? Kebetulan donk kalo gitu? Gue mau gabung di tim loe kira – kira masih diterima enggak ya?" sahut Laras dengan ekspresi ceria "emang loe bisa cheers?" tanya Angel "iya kebetulan gue mantan ketua cheers di SMA gue yang lama" papar Laras dengan rendah hati "oh ya? Bagus donk? Kebetulan banget kita emang lagi butuh orang, jadi mendingan loe buru – buru gabung aja deh sama kita!" ujar Angel tersentak "oke! Kebetulan yang menyenangkan ya? Loe mau kan temenin gue nemuin ketua loe?" Laras tersenyum lebar.
***
Pulang sekolah Laras sudah bersiap – siap untuk latihan cheersleader dengan tim barunya. Ia sedang melakukan pemanasan di lapangan indoor dengan tim yang lainnya. Ketika latihan akan segera dimulai, Angel malah ngeloyor mendekati anak – anak tim basket di tengah lapangan. Dari kejauhan ia nampak sedang membisikkan sesuatu pada salah satu anak basket dan setelah itu menarik tangan cowok keren itu menuju ke pinggir lapangan di mana tempat tim cheersleader sedang berkumpul "ikh si Angel ngapain bawa – bawa si Devhan ke sini?" gumam Laras dalam hati sembari mengerutkan dahinya "Dev, nih kenalin! Ini anak baru di tim kita! Cantik kan?" sahut Angel menyenggol tubuh kekarnya Devhan "cantik lah…" balas Devhan sumringah "ikh ngapain sih si Angel? Petakilan banget sih nih anak?"gerutu Laras dalam hati "Ras, perlu loe tau nih, Devhan ini ketua tim basket sekolah kita. Ganteng kan?" kini giliran Angel mempromosikan Devhan "ikh apa – apaan sih si Angel? Konyol banget deh nih anak" gendok Laras dalam hati "enggak ganteng tuh, biasa aja!" sahut Laras angkuh "wuah loe dibilang biasa aja Dev, marah donk Dev!" Angel mengompori Devhan, namun sebelum sempat membalas ucapan Laras Devhan sudah dipanggil oleh pelatih basketnya. Devhan hanya menyunggingkan bibir merahnya seraya mengerlingkan sebelah matanya ke arah Laras yang sedang manyun, kemudian berlari menuju tengah lapangan.
"Ciieh… beruntungnya Laras hari ini?" ejek Angel dengan gaya genitnya "Angel!!" seru seorang cewek dengan nada keras dan garang "loe tau enggak sih aturan kita? Sekarang tuh waktunya kita latihan bukan waktunya loe genit – genitan? Pake ngenalin Devhan ke anak baru ini lagi, emang segitu pentingnya ya buat loe? Atau loe Ras yang nyuruh Angel ngenalin Devhan? Ganjen loe! Anak baru aja udah kebanyakkan gaya loe?" semprot Ami selaku ketua tim cheersleader yang terkenal galak, sok famous, sok cantik dan sombong itu. Angel dan Laras hanya merundukkan kepalanya dengan hati kesal setengah mati "udah – udah! Ayo latihan!" seru Ami,kemudian kembali berkumpul dengan anak – anak cheers yang lain. "sorry ya Ras! Gara – gara gue loe jadi ikutan kena semprot juga sama si Nenek Sihir, sorry ya!" bisik Angel "udah lah lupain aja! Gue oke kok, nyantai aja lagi!" balas Laras seraya merangkul Angel.
Malam – malam gini Laras sedang asyik berbincang – bincang dengan Angel melalui telepon rumahnya "ekh Jel, certain donk tentang Ami, gue jadi penasaran nih!" seru Laras "Ami itu orangnya otoriter, sok ngatur gitu terus orangnya sok famous gitu. Mungkin dia pikir dia itu keren kali ya karena dia ketua cheers, dia juga sok kecantikan padahal tampangnya pasaran dan dia juga anaknya sombong banget gitu, pokoknya nyebelin abis deh anaknya" ujar Angel terdengar penuh antusias "terus hubungan loe dan yang lainnya dengan dia bagaimana?" Laras kembali melontarkan pertanyaan "hubungan gue dan yang lainnya enggak deket sama dia karena kita tuh enggak suka banget sama tuh anak. Gayanya bossy banget, kita juga nyesel banget sama keputusan pelatih yang udah memilih dia sebagai ketua. Kita tuh pengen banget ganti ketua tau enggak?" ujar Angel masih dengan semangat 45 nya "terus kenapa belum diganti?" tanya Laras "karena kita belum dapetin pengganti yang pas buat gantiin posisi dia. Ya kita sih sadar diri ya kalo skill kita memang enggak sebagus Ami, makanya kita enggak berani calonin diri sebagai gantinya Ami" jawab Angel dengan nada sedikit lemas "oh gitu ya?" tanya Laras dengan nada yang sama.
"Ciieh… beruntungnya Laras hari ini?" ejek Angel dengan gaya genitnya "Angel!!" seru seorang cewek dengan nada keras dan garang "loe tau enggak sih aturan kita? Sekarang tuh waktunya kita latihan bukan waktunya loe genit – genitan? Pake ngenalin Devhan ke anak baru ini lagi, emang segitu pentingnya ya buat loe? Atau loe Ras yang nyuruh Angel ngenalin Devhan? Ganjen loe! Anak baru aja udah kebanyakkan gaya loe?" semprot Ami selaku ketua tim cheersleader yang terkenal galak, sok famous, sok cantik dan sombong itu. Angel dan Laras hanya merundukkan kepalanya dengan hati kesal setengah mati "udah – udah! Ayo latihan!" seru Ami,kemudian kembali berkumpul dengan anak – anak cheers yang lain. "sorry ya Ras! Gara – gara gue loe jadi ikutan kena semprot juga sama si Nenek Sihir, sorry ya!" bisik Angel "udah lah lupain aja! Gue oke kok, nyantai aja lagi!" balas Laras seraya merangkul Angel.
Malam – malam gini Laras sedang asyik berbincang – bincang dengan Angel melalui telepon rumahnya "ekh Jel, certain donk tentang Ami, gue jadi penasaran nih!" seru Laras "Ami itu orangnya otoriter, sok ngatur gitu terus orangnya sok famous gitu. Mungkin dia pikir dia itu keren kali ya karena dia ketua cheers, dia juga sok kecantikan padahal tampangnya pasaran dan dia juga anaknya sombong banget gitu, pokoknya nyebelin abis deh anaknya" ujar Angel terdengar penuh antusias "terus hubungan loe dan yang lainnya dengan dia bagaimana?" Laras kembali melontarkan pertanyaan "hubungan gue dan yang lainnya enggak deket sama dia karena kita tuh enggak suka banget sama tuh anak. Gayanya bossy banget, kita juga nyesel banget sama keputusan pelatih yang udah memilih dia sebagai ketua. Kita tuh pengen banget ganti ketua tau enggak?" ujar Angel masih dengan semangat 45 nya "terus kenapa belum diganti?" tanya Laras "karena kita belum dapetin pengganti yang pas buat gantiin posisi dia. Ya kita sih sadar diri ya kalo skill kita memang enggak sebagus Ami, makanya kita enggak berani calonin diri sebagai gantinya Ami" jawab Angel dengan nada sedikit lemas "oh gitu ya?" tanya Laras dengan nada yang sama.
***
Devhan sedang istirahat dan duduk di tengah – tengah lapangan basket bersama genknya yaitu Revo, Nuno dan Kemal "Dev, loe suka ya sama si Laras?" tanya Revo seraya membuka tutup kaleng softdrinknya "iya lah, mata gue masih normal kali. Masa cewek secantik itu gue enggak suka? Itu namanya baru gue enggak normal. Gue yakin loe – loe juga pasti naksir kan sama si Laras? Ayo ngaku!" jawab cowok yang punya banyak koleksi gelang tangan dan kacamata itu dengan PeDe "hehe…iyalah bos, kita juga kan masih normal"sahut ketiganya kompak sembari cengengesan "ekh enggak bisa – enggak bisa!!! Enak aja loe, Laras itu jatah gue jadi loe bertiga enggak ada yang boleh jatuh cinta sama dia! Ngerti loe?" tukas Devhan dengan tegas "siap Bos!" sahut ketiganya dengan nada lemas seraya memanyunkan bibirnya dan Devhan hanya nyengir lebar – lebar seperti kuda sedang BAB.
Di kelas Devhan selalu berusaha mendekati pujaan hatinya, Laras tetapi sikap Laras terhadap Devhan tidak terlalu ramah. Nampaknya Laras kurang welcome dengan kehadiran Devhan karena sikap Devhan selalu menyebalkan bagi Laras "loe kenapa sih hobi banget ganggu orang?" Laras sewot ketika Devhan berusaha menghalangi langkahnya "orang? Bukan lagi! Loe mau tau enggak loe itu apa?"sahut cowok berambut hitam itu sambil cengengesan "apa?" tanya cewek bermata bulat itu ketus seraya berkacak pinggang "bidadari yang turun dari kayangan untuk nemuin gue, karena loe itu cantik banget jadi jangan heran kalo semua orang bakal kira loe bidadari." Jawab Devhan menekankan kata 'cantik' "ikh gembel banget sich loe?" cetus Laras "eits..! gue tekankan disini ya, gue itu bukan gembel tapi Pangeran yang sudah sekian lama menanti kehadiran loe Cantik" gaya cowok bermata sipit tajam itu makin terlihat menjijikan "loe itu beneran sakit jiwa ya? Sarap, gila tau enggak?" sahut cewek berambut panjang itu bergidik mendengar ucapan Devhan barusan "iya,gue emang gila tapi yang udah buat gue jadi gila kayak gini itu loe jadi loe harus tanggung jawab untuk nyembuhin gue!" ujar cowok yang hairstylenya seperti cowok – cowok boyband Korea ini benar – benar membuat Laras ingin pergi jauh darinya "iiiikkkhhh…. Loe itu norak banget ya? kePeDean bikin gue ilfeel tau enggak? Kebanyakan ngomong sama loe, bisa – bisa gue jadi ikutan gila lagi?" Laras pergi meninggalkan Devhan yang masih cengar – cengir sendiri.
Setiap hari Devhan mengusik ketenangan Laras hingga membuat Laras mulai terbiasa menghadapinya. Singkat cerita, Devhan sudah tiga bulan belakangan ini selalu bersikap berlebihan seperti itu terhadap Laras namun Laras masih bersikap dingin seperti sebelum – sebelumnya.
Di kelas Devhan selalu berusaha mendekati pujaan hatinya, Laras tetapi sikap Laras terhadap Devhan tidak terlalu ramah. Nampaknya Laras kurang welcome dengan kehadiran Devhan karena sikap Devhan selalu menyebalkan bagi Laras "loe kenapa sih hobi banget ganggu orang?" Laras sewot ketika Devhan berusaha menghalangi langkahnya "orang? Bukan lagi! Loe mau tau enggak loe itu apa?"sahut cowok berambut hitam itu sambil cengengesan "apa?" tanya cewek bermata bulat itu ketus seraya berkacak pinggang "bidadari yang turun dari kayangan untuk nemuin gue, karena loe itu cantik banget jadi jangan heran kalo semua orang bakal kira loe bidadari." Jawab Devhan menekankan kata 'cantik' "ikh gembel banget sich loe?" cetus Laras "eits..! gue tekankan disini ya, gue itu bukan gembel tapi Pangeran yang sudah sekian lama menanti kehadiran loe Cantik" gaya cowok bermata sipit tajam itu makin terlihat menjijikan "loe itu beneran sakit jiwa ya? Sarap, gila tau enggak?" sahut cewek berambut panjang itu bergidik mendengar ucapan Devhan barusan "iya,gue emang gila tapi yang udah buat gue jadi gila kayak gini itu loe jadi loe harus tanggung jawab untuk nyembuhin gue!" ujar cowok yang hairstylenya seperti cowok – cowok boyband Korea ini benar – benar membuat Laras ingin pergi jauh darinya "iiiikkkhhh…. Loe itu norak banget ya? kePeDean bikin gue ilfeel tau enggak? Kebanyakan ngomong sama loe, bisa – bisa gue jadi ikutan gila lagi?" Laras pergi meninggalkan Devhan yang masih cengar – cengir sendiri.
Setiap hari Devhan mengusik ketenangan Laras hingga membuat Laras mulai terbiasa menghadapinya. Singkat cerita, Devhan sudah tiga bulan belakangan ini selalu bersikap berlebihan seperti itu terhadap Laras namun Laras masih bersikap dingin seperti sebelum – sebelumnya.
***
Hari ini Devhan tidak masuk sekolah entah karena alasan apa karena tak ada satu orangpun yang mengetahui kabarnya. Laras merasa lega karena tak ada pengganggu, namun perasaan lega itu hanya mampir sejenak di hatinya karena tiba – tiba ia merindukan kata – kata gombal dan noraknya Devhan.
Laras membawa setumpukan buku – buku tebal dari perpustakaan, di tengah jalan ia bertabrakan dengan seseorang "gue bantu ya!" ujar seseorang itu yang ternyata adalah Revo sahabat Devhan seraya meraih buku – buku yang sudah berserakan "sorry ya! gue jalannya enggak hati – hati, maaf ya!" lanjut Revo seraya menatap wajah putihnya Laras "enggak apa – apa kok! Gue juga yang salah! Karena susunan bukunya terlalu tinggi, penglihatan gue jadi terhalang dan harus nabrak loe, maaf ya!" tukas Laras tersenyum ramah "gue bantu bawain ya?" ujar Revo menawarkan bantuan "enggak usah! Gue bisa bawa sendiri kok"sergah cewek berbibir mungil itu menolak tawaran baik Revo "yakin?" tanya cowok yang punya nama lengkap Revo Mario itu kembali memastikan. Laras menganggukkan kepalanya seraya member sebuah senyuman "okey, ya udah kalo gitu hati – hati ya! Jangan sampe nabrak orang lagi!" seru Revo tersenyum simpul "iya, thanks ya!" balas Laras memberikan senyuman yang serupa.
Hampir dua minggu Devhan belum juga masuk sekolah, tak ada satu orangpun yang tahu sebabnya dan selama itu pula hubungan Laras dengan Revo semakin dekat bahkan tersiar kabar bahwa mereka sudah resmi berpacaran sejak dua hari yang lalu. Entah apa jadinya jika Devhan yang mengetahui berita tersebut.
Singkat cerita, setelah tiga minggu menghilang tak ada kabarnya akhirnya hari ini Devhan masuk sekolah juga. Ada yang aneh dengan Devhan hari ini, wajahnya nampak pucat pasi, langkahnya nampak gontai dan tegap tubuhnya tak lagi nampak seperti sebelum ia menghilang. Dari kejauhan Nuno dan Kemal melihat kedatangan Devhan, mereka berlari menuju Revo yang sedang berduaan dengan Laras di salah satu bangku di kelas. Nuno membisikkan Revo bahwa Devhan hari ini masuk sekolah dan sedang berjalan menuju kelas. Revo dengan sigap menjauhi Laras dan bersiap – siap menyambut kedatangan Devhan di depan pintu kelasnya.
Seharian Laras memerhatikan Devhan karena ia merasa ada yang aneh dengan Devhan hari ini. Devhan menjadi anak yang pemurung, pendiam, tak bersemangat dan tak lagi aktif mengganggunya. Seharusnya Laras merasa senang dan lega melihat kelakuan Devhan yang berubah tiga ratus enam puluh derajat tapi justru berbanding terbalik dengan kenyataannya, Laras merasa ada sesuatu di hatinya yang membuat dirinya merindukan tingkah konyol Devhan.
Laras membawa setumpukan buku – buku tebal dari perpustakaan, di tengah jalan ia bertabrakan dengan seseorang "gue bantu ya!" ujar seseorang itu yang ternyata adalah Revo sahabat Devhan seraya meraih buku – buku yang sudah berserakan "sorry ya! gue jalannya enggak hati – hati, maaf ya!" lanjut Revo seraya menatap wajah putihnya Laras "enggak apa – apa kok! Gue juga yang salah! Karena susunan bukunya terlalu tinggi, penglihatan gue jadi terhalang dan harus nabrak loe, maaf ya!" tukas Laras tersenyum ramah "gue bantu bawain ya?" ujar Revo menawarkan bantuan "enggak usah! Gue bisa bawa sendiri kok"sergah cewek berbibir mungil itu menolak tawaran baik Revo "yakin?" tanya cowok yang punya nama lengkap Revo Mario itu kembali memastikan. Laras menganggukkan kepalanya seraya member sebuah senyuman "okey, ya udah kalo gitu hati – hati ya! Jangan sampe nabrak orang lagi!" seru Revo tersenyum simpul "iya, thanks ya!" balas Laras memberikan senyuman yang serupa.
Hampir dua minggu Devhan belum juga masuk sekolah, tak ada satu orangpun yang tahu sebabnya dan selama itu pula hubungan Laras dengan Revo semakin dekat bahkan tersiar kabar bahwa mereka sudah resmi berpacaran sejak dua hari yang lalu. Entah apa jadinya jika Devhan yang mengetahui berita tersebut.
Singkat cerita, setelah tiga minggu menghilang tak ada kabarnya akhirnya hari ini Devhan masuk sekolah juga. Ada yang aneh dengan Devhan hari ini, wajahnya nampak pucat pasi, langkahnya nampak gontai dan tegap tubuhnya tak lagi nampak seperti sebelum ia menghilang. Dari kejauhan Nuno dan Kemal melihat kedatangan Devhan, mereka berlari menuju Revo yang sedang berduaan dengan Laras di salah satu bangku di kelas. Nuno membisikkan Revo bahwa Devhan hari ini masuk sekolah dan sedang berjalan menuju kelas. Revo dengan sigap menjauhi Laras dan bersiap – siap menyambut kedatangan Devhan di depan pintu kelasnya.
Seharian Laras memerhatikan Devhan karena ia merasa ada yang aneh dengan Devhan hari ini. Devhan menjadi anak yang pemurung, pendiam, tak bersemangat dan tak lagi aktif mengganggunya. Seharusnya Laras merasa senang dan lega melihat kelakuan Devhan yang berubah tiga ratus enam puluh derajat tapi justru berbanding terbalik dengan kenyataannya, Laras merasa ada sesuatu di hatinya yang membuat dirinya merindukan tingkah konyol Devhan.
***
Setelah empat hari masuk sekolah, hari ini Devhan sudah nampak lebih baik dari kemarin. Ia sudah nampak lebih fresh. Ketika Devhan di toilet untuk ganti pakaian latihan basketnya, ia tak sengaja mendengar pembicaraan beberapa siswa tentang berita terhangat di sekolah belakangan ini "ekh beruntung banget ya si Revo?" sahut salah satu siswa ( siswa 1 ) dari balik pintu "iya" balas siswa lain ( siswa 2 ) yang mungkin adalah teman dari siswa tersebut "beruntung banget dia bisa dapetin Laras bidadari sekolah ini, iya enggak?" siswa 1 kembali berujar "iya, gila
Kedua siswa yang sedari tadi membicarakan gosip terpanas di sekolah itu sangat terkejut ketika melihat sosok Devhan tiba – tiba muncul dari balik pintu salah satu toilet "Devhan?" sahut kedua siswa itu tersentak melihat Devhan bergegas keluar terburu – buru dengan raut wajah yang terlihat lebih garang "jangan – jangan dia denger yang kita omongin tadi?" siswa 1 menebak situasi dengan tepat "ikutin Devhan yuk!" seru siswa 2, kemudian keduanya bergegas mengikuti kemana Devhan pergi dan ternyata Devhan pergi menuju lapangan. Ia menghampiri Revo yang sedang bermain basket, berdiri tepat di hadapan Revo dengan tatapan penuh amarah "Dev, loe kenapa?' tanya Revo mulai merasakan atmosfir yang berbeda "bener loe jadian sama Laras?" tanya Devhan masih dengan tatapan yang sama.revo terdiam merundukkan kepalanya "JAWAB!!!" gertak Devhan membuat seantero sekolah menoleh ke arahnya. Nuno dan Kemal segera berlari menghampiri Devhan dan Revo "Bos, sabar Bos!!"sahut Kemal tak digubris oleh keduanya. "Iya… gue emang jadian sama Laras" jawab Revo agak merundukkan kepalanya. Devhan melayangkan tangannya hendak menampar wajah Revo tetapi belum sempat tangannya mendarat tiba – tiba tangannya memegangi kepalanya erat – erat, ia nampak sedang merasakan sakit di kepalanya. Devhan seketika terjatuh pingsan di tengah lapangan tepat di hadapan Revo dan kedua teman lainnya "Bos!!" seru Nuno dan Kemal tersentak, Revo yang sedang menutup matanyapun membuka mata dan berseru "Devhan?".
Setelah hampir dua jam pingsan, akhirnya Devhan membuka membuka matanya juga. "Devhan loe enggak apa – apa kan?" tanya Revo yang sedari tadi menemani Devhan di UKS "gue di mana?" tanya Devhan sambil sesekali memegangi kepalanya yang masih terasa sakit dan berat "di UKS, tadi loe jatuh pingsan. Dev, maafin gue ya…" ujar Revo masih menahan beberapa kata "maafin gue karena udah rebut Laras dari loe! Gue enggak maksud makan temen tapi…." Lanjut Revo terpotong, Devhan beranjak dari tempat tidur dan hendak pergi "never mind! Ambil aja Laras buat loe!" sahutnya seraya berjalan keluar meninggalkan UKS dan Revo "maksudnya?" Tanya Revo pada dirinya sendiri "Dev, maksudnya apa Dev?" suara Revo berteriak seraya mengejar Devhan yang langkahnya tak secepat biasanya "ya udah Laras buat loe aja! Gue udah enggak butuh dia kok, sorry ya tadi gue kebawa emosi! Lagi pula dia mana mau sama gue? She knows who the best for herself, trust me buddy! Jaga dia baik – baik ya!! Key??" ujar Devhan seraya tersenyum simpul dan menepuk bahu sahabat karibnya "ok! Thank's ya Bos!" sahut Revo tersenyum. Devhan tersenyum lalu berjalan meninggalkan Revo "loe emang lebih baik dari gue Rev! gue enggak mungkin bisa memiliki Laras meski gue cinta banget sama Laras tapi gue akan berusaha untuk ikhlas terima semua itu" gumam Devhan dalam hati menelan rasa getir demi sebuah persahabatan dan pengorbanan.
Kedua siswa yang sedari tadi membicarakan gosip terpanas di sekolah itu sangat terkejut ketika melihat sosok Devhan tiba – tiba muncul dari balik pintu salah satu toilet "Devhan?" sahut kedua siswa itu tersentak melihat Devhan bergegas keluar terburu – buru dengan raut wajah yang terlihat lebih garang "jangan – jangan dia denger yang kita omongin tadi?" siswa 1 menebak situasi dengan tepat "ikutin Devhan yuk!" seru siswa 2, kemudian keduanya bergegas mengikuti kemana Devhan pergi dan ternyata Devhan pergi menuju lapangan. Ia menghampiri Revo yang sedang bermain basket, berdiri tepat di hadapan Revo dengan tatapan penuh amarah "Dev, loe kenapa?' tanya Revo mulai merasakan atmosfir yang berbeda "bener loe jadian sama Laras?" tanya Devhan masih dengan tatapan yang sama.revo terdiam merundukkan kepalanya "JAWAB!!!" gertak Devhan membuat seantero sekolah menoleh ke arahnya. Nuno dan Kemal segera berlari menghampiri Devhan dan Revo "Bos, sabar Bos!!"sahut Kemal tak digubris oleh keduanya. "Iya… gue emang jadian sama Laras" jawab Revo agak merundukkan kepalanya. Devhan melayangkan tangannya hendak menampar wajah Revo tetapi belum sempat tangannya mendarat tiba – tiba tangannya memegangi kepalanya erat – erat, ia nampak sedang merasakan sakit di kepalanya. Devhan seketika terjatuh pingsan di tengah lapangan tepat di hadapan Revo dan kedua teman lainnya "Bos!!" seru Nuno dan Kemal tersentak, Revo yang sedang menutup matanyapun membuka mata dan berseru "Devhan?".
Setelah hampir dua jam pingsan, akhirnya Devhan membuka membuka matanya juga. "Devhan loe enggak apa – apa kan?" tanya Revo yang sedari tadi menemani Devhan di UKS "gue di mana?" tanya Devhan sambil sesekali memegangi kepalanya yang masih terasa sakit dan berat "di UKS, tadi loe jatuh pingsan. Dev, maafin gue ya…" ujar Revo masih menahan beberapa kata "maafin gue karena udah rebut Laras dari loe! Gue enggak maksud makan temen tapi…." Lanjut Revo terpotong, Devhan beranjak dari tempat tidur dan hendak pergi "never mind! Ambil aja Laras buat loe!" sahutnya seraya berjalan keluar meninggalkan UKS dan Revo "maksudnya?" Tanya Revo pada dirinya sendiri "Dev, maksudnya apa Dev?" suara Revo berteriak seraya mengejar Devhan yang langkahnya tak secepat biasanya "ya udah Laras buat loe aja! Gue udah enggak butuh dia kok, sorry ya tadi gue kebawa emosi! Lagi pula dia mana mau sama gue? She knows who the best for herself, trust me buddy! Jaga dia baik – baik ya!! Key??" ujar Devhan seraya tersenyum simpul dan menepuk bahu sahabat karibnya "ok! Thank's ya Bos!" sahut Revo tersenyum. Devhan tersenyum lalu berjalan meninggalkan Revo "loe emang lebih baik dari gue Rev! gue enggak mungkin bisa memiliki Laras meski gue cinta banget sama Laras tapi gue akan berusaha untuk ikhlas terima semua itu" gumam Devhan dalam hati menelan rasa getir demi sebuah persahabatan dan pengorbanan.
***
Laras menjadi sering berkumpul dengan genk Devhan. Hati Devhan semakin hancur setiap kali melihat Revo dan Laras sedang bermesraan, ia tak bisa berbuat apa – apa kecuali menelan pahitnya kenyataan. Meskipun membathin tetapi ia tetap berusaha untuk tersenyum di hadapan mereka.
Devhan tak sanggup melihat kemesraan Revo dan Laras, ia berusaha menghindari mereka dengan cara menyendiri. Malam ini genk Devhan dan Laras sedang berkumpul di rumah Kemal, mereka berencana untuk menginap kecuali Laras. Lagi – lagi Devhan harus menjauhi pasangan yang sedang dimabuk cinta itu, Devhan pergi ke ruang tamu dan melamun sembari rebahan "gue enggak tahan harus selalu menyaksikan kemesraan mereka dan berusaha nampak seakan – akan enggak ada apa – apa. Sakit banget rasanya dada gue" gumam Devhan dalam hati "biar gue cinta mati pun gue enggak akan pernah mau miliki loe Ras karena gue enggak akan pernah mau lukai dan merepotkan loe. Ya Tuhan ternyata ikhlas itu enggak semudah pengucapannya ya?, beri aku kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi semuanya Ya Tuhan! Amin." gumam cowok berkulit putih bersih itu seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya lalu memejamkan kedua matanya.
Sedang asyik menyendiri tiba – tiba ia kedatangan Nuno "Bos!" serunya membuyarkan pikiran Devhan, perlahan Devhan membuka matanya kemudian menatap Nuno yang tengah berdiri di sampingnya. Devhan mencoba bangun dan terduduk di sofa, Nuno ikut duduk di sampingnya seraya memulai percakapan "loe kenapa Bos? Gue perhatiin belakangan ini loe mendadak jadi anak yang pendiam kayak gini, ada apa sih Bos? Cerita dong! Kita kan sobat?" ujar Nuno lalu meneguk softdrinknya. Devhan terdiam sejenak "No, seandainya loe tahu kapan loe akan mati apa yang akan loe lakukan di sisa waktu loe?" pertanyaan Devhan seketika membuat Nuno tersentak dan merinding "kok pertanyaannya gitu sih Bos?" tanya Nuno heran "jawab aja sih! Enggak usah bawel!" seru Devhan ketus "iya habisnya pertanyaan loe itu Bos bikin gue merinding aja… iya deh gue jawab" sahut Nuno pasrah "kalo gue bakal bahagiain orang tua gue, bahagiain orang – orang yang ada di sekitar gue, gue bakal buat orang tua gue bangga sama gue, gue bakal buat kenangan – kenangan manis dan enggak terlupakan dengan orang – orang yang gue sayang, gue bakal tobat, banyak beramal, dan banyak beribadah tapi ya Bos siapa sih yang tahu kapan dia akan mati? Mati kan rahasia Tuhan, ya kan Bos? Manusia yang sekarang keliatan sehat aja tiba – tiba beberapa menit kemudian bisa mati karena kena serangan jantung mendadak atau tiba – tiba tertabrak mobil dan mati, kita kan enggak pernah tahu, iya kan?"lanjut Nuno mendadak nampak lebih jenius dan bijak "iya, thank's ya loe udah mau jawab pertanyaan gue! Oh ya gue enggak bisa nginep, gue mau balik. Bilangin ya ke Kemal dan yang lainnya gue balik duluan! See ya!" sahut Devhan buru – buru menghindar takut Nuno akan bertanya lebih jauh lagi, kemudian pergi dengan langkah terburu – buru "iya Bos, hati – hati ya!" seru Nuno seraya melambaikan tangannyadari balik pintu.
Devhan tak sanggup melihat kemesraan Revo dan Laras, ia berusaha menghindari mereka dengan cara menyendiri. Malam ini genk Devhan dan Laras sedang berkumpul di rumah Kemal, mereka berencana untuk menginap kecuali Laras. Lagi – lagi Devhan harus menjauhi pasangan yang sedang dimabuk cinta itu, Devhan pergi ke ruang tamu dan melamun sembari rebahan "gue enggak tahan harus selalu menyaksikan kemesraan mereka dan berusaha nampak seakan – akan enggak ada apa – apa. Sakit banget rasanya dada gue" gumam Devhan dalam hati "biar gue cinta mati pun gue enggak akan pernah mau miliki loe Ras karena gue enggak akan pernah mau lukai dan merepotkan loe. Ya Tuhan ternyata ikhlas itu enggak semudah pengucapannya ya?, beri aku kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi semuanya Ya Tuhan! Amin." gumam cowok berkulit putih bersih itu seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya lalu memejamkan kedua matanya.
Sedang asyik menyendiri tiba – tiba ia kedatangan Nuno "Bos!" serunya membuyarkan pikiran Devhan, perlahan Devhan membuka matanya kemudian menatap Nuno yang tengah berdiri di sampingnya. Devhan mencoba bangun dan terduduk di sofa, Nuno ikut duduk di sampingnya seraya memulai percakapan "loe kenapa Bos? Gue perhatiin belakangan ini loe mendadak jadi anak yang pendiam kayak gini, ada apa sih Bos? Cerita dong! Kita kan sobat?" ujar Nuno lalu meneguk softdrinknya. Devhan terdiam sejenak "No, seandainya loe tahu kapan loe akan mati apa yang akan loe lakukan di sisa waktu loe?" pertanyaan Devhan seketika membuat Nuno tersentak dan merinding "kok pertanyaannya gitu sih Bos?" tanya Nuno heran "jawab aja sih! Enggak usah bawel!" seru Devhan ketus "iya habisnya pertanyaan loe itu Bos bikin gue merinding aja… iya deh gue jawab" sahut Nuno pasrah "kalo gue bakal bahagiain orang tua gue, bahagiain orang – orang yang ada di sekitar gue, gue bakal buat orang tua gue bangga sama gue, gue bakal buat kenangan – kenangan manis dan enggak terlupakan dengan orang – orang yang gue sayang, gue bakal tobat, banyak beramal, dan banyak beribadah tapi ya Bos siapa sih yang tahu kapan dia akan mati? Mati kan rahasia Tuhan, ya kan Bos? Manusia yang sekarang keliatan sehat aja tiba – tiba beberapa menit kemudian bisa mati karena kena serangan jantung mendadak atau tiba – tiba tertabrak mobil dan mati, kita kan enggak pernah tahu, iya kan?"lanjut Nuno mendadak nampak lebih jenius dan bijak "iya, thank's ya loe udah mau jawab pertanyaan gue! Oh ya gue enggak bisa nginep, gue mau balik. Bilangin ya ke Kemal dan yang lainnya gue balik duluan! See ya!" sahut Devhan buru – buru menghindar takut Nuno akan bertanya lebih jauh lagi, kemudian pergi dengan langkah terburu – buru "iya Bos, hati – hati ya!" seru Nuno seraya melambaikan tangannyadari balik pintu.
***
Devhan terus memikirkan ucapan Nuno ketika sesampainya di rumah. Devhan kembali merebahkan tubuhnya di kasur luasnya yang empuk dan nyaman "bener juga Nuno" gumam Devhan sambil menatap langit – langit kamarnya yang berwarna putih seraya kembali mengingat – ingat ucapan Nuno tadi.
Sejak saat itu Devhan menjadi anak yang baik, rajin beribadah, rajin belajar, berlatih basket dan berubah menjadi anak yang benar – benar menyenangkan. Laras pun ikut menyukai perubahan Devhan yang begitu tiba – tiba, tetapi semua orang tak mengerti dengan perubahan sikap Devhan belakangan ini "si Bos kenapa ya? Kok mendadak berubah seratus delapan puluh derajat sih? Aneh tahu enggak? Ada yang enggak beres nih?" tanya Kemal merasa aneh "iya kenapa ya?" Nuno malah berbalik tanya "eeuumm… capek deh ngomong sama loe!" ujar Kemal mencibir "hehehe" Nuno hanya nyengir. Revo sedang asyik sendiri dengan ponselnya sehingga tak ikut berbincang dengan kedua teman karibnya. "Devhan? Laras?" sahut Revo nampak sangat tersentak ketika melihat sebuah foto yang baru saja ia terima melalui pesan Multimedia.
“Kenapa Rev?” tanya Kemal dan Nuno penasaran “liat nih!” Revo menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya “hah??? Si Bos sama Laras?” sahut keduanya serempak melihat foto Devhan sedang berbaring di atas tubuh Laras dan saling menatap muka. Mereka belum sempat banyak berkomentar Revo sudah ngeloyor mencari Devhan “gaswat!” sahut Nuno “gawat” sahut Kemal membenarkan ucapan Nuno “iya gawat maksudnye, jangan – jangan Revo cari Si Bos lagi?? Susulin yuk!!” lanjut Nuno “yuk!” lalu keduanya bergegas mencari Revo.
Braakkk… Revo menggebrak meja yang ada di hadapan Devhan di mana Devhan sedang asyik mencatat materi pelajaran yang ada di whiteboard. Devhan tersentak hingga matanya terbelalak “apa – apaan sih loe?” tanya Devhan bingung, namun tanpa banyak kata Revo segera menarik kerah baju Devhan hingga Devhan tak bisa bernapas dan menghajar wajah Devhan hingga seketika hidungnya mengeluar darah segar.
Devhan sungguh tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi dan apa salahnya hingga tiba – tiba ia dihajar oleh sahabatnya sendiri, Revo baru akan melayangkan kembali tangannya tetapi suara seseorang menghentikan niatnya “STOP!!!!!” ternyata Laras berteriak dari kejauhan tepat dekat pintu keluar ia berdiri, lalu ia menghampiri Revo dan Devhan “kamu tuh kenapa sih?” tanya Laras ketus “kamu tuh yang kenapa?” Revo berbalik tanya membuat Laras terbengong – bengong “aku?? Aku yang kenapa? Maksud kamu apa sih?” Laras benar – benar belum mengetahui foto tersebut “nih!!” sahut Revo seraya menunjukkan foto kebersamaan Laras dan Devhan ke arah keduanya.
Devhan dan Laras semakin tersentak melihat bukti yang ada “jelas??” tanya Revo masih dengan tatapan berapi – api “Rev, itu enggak bener Rev!! itu cuma salah paham, gue bisa jelasin semuanya ke loe tapi please…” ujar Devhan terpotong “aaakkkhhh…!! Gue enggak butuh penjelasan dari loe karena bukti ini udah cukup jelas. Ternyata ucapan loe itu enggak sesuai dengan kenyataannya ya? Munafik loe!” potong Revo memelototi Devhan dekat – dekat, kemudian melepaskan tangannya dari kerah baju Devhan dan bergegas pergi.
Laras menangis di hadapan Devhan, Kemal dan Nuno “Ras! Sorry!” ucap Devhan lemas namun tak digubris oleh Laras. Laras pergi meninggalkan Devhan, Devhan terdiam “Bos loe enggak apa – apa kan?” Kemal dan Nuno mencemaskan keduanya. Devhan tak berkata sepatah katapun, ia hanya tersenyum tanpa makna dengan tatapan yang kosong kemudian terduduk lemas.
Sejak saat itu Devhan menjadi anak yang baik, rajin beribadah, rajin belajar, berlatih basket dan berubah menjadi anak yang benar – benar menyenangkan. Laras pun ikut menyukai perubahan Devhan yang begitu tiba – tiba, tetapi semua orang tak mengerti dengan perubahan sikap Devhan belakangan ini "si Bos kenapa ya? Kok mendadak berubah seratus delapan puluh derajat sih? Aneh tahu enggak? Ada yang enggak beres nih?" tanya Kemal merasa aneh "iya kenapa ya?" Nuno malah berbalik tanya "eeuumm… capek deh ngomong sama loe!" ujar Kemal mencibir "hehehe" Nuno hanya nyengir. Revo sedang asyik sendiri dengan ponselnya sehingga tak ikut berbincang dengan kedua teman karibnya. "Devhan? Laras?" sahut Revo nampak sangat tersentak ketika melihat sebuah foto yang baru saja ia terima melalui pesan Multimedia.
“Kenapa Rev?” tanya Kemal dan Nuno penasaran “liat nih!” Revo menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya “hah??? Si Bos sama Laras?” sahut keduanya serempak melihat foto Devhan sedang berbaring di atas tubuh Laras dan saling menatap muka. Mereka belum sempat banyak berkomentar Revo sudah ngeloyor mencari Devhan “gaswat!” sahut Nuno “gawat” sahut Kemal membenarkan ucapan Nuno “iya gawat maksudnye, jangan – jangan Revo cari Si Bos lagi?? Susulin yuk!!” lanjut Nuno “yuk!” lalu keduanya bergegas mencari Revo.
Braakkk… Revo menggebrak meja yang ada di hadapan Devhan di mana Devhan sedang asyik mencatat materi pelajaran yang ada di whiteboard. Devhan tersentak hingga matanya terbelalak “apa – apaan sih loe?” tanya Devhan bingung, namun tanpa banyak kata Revo segera menarik kerah baju Devhan hingga Devhan tak bisa bernapas dan menghajar wajah Devhan hingga seketika hidungnya mengeluar darah segar.
Devhan sungguh tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi dan apa salahnya hingga tiba – tiba ia dihajar oleh sahabatnya sendiri, Revo baru akan melayangkan kembali tangannya tetapi suara seseorang menghentikan niatnya “STOP!!!!!” ternyata Laras berteriak dari kejauhan tepat dekat pintu keluar ia berdiri, lalu ia menghampiri Revo dan Devhan “kamu tuh kenapa sih?” tanya Laras ketus “kamu tuh yang kenapa?” Revo berbalik tanya membuat Laras terbengong – bengong “aku?? Aku yang kenapa? Maksud kamu apa sih?” Laras benar – benar belum mengetahui foto tersebut “nih!!” sahut Revo seraya menunjukkan foto kebersamaan Laras dan Devhan ke arah keduanya.
Devhan dan Laras semakin tersentak melihat bukti yang ada “jelas??” tanya Revo masih dengan tatapan berapi – api “Rev, itu enggak bener Rev!! itu cuma salah paham, gue bisa jelasin semuanya ke loe tapi please…” ujar Devhan terpotong “aaakkkhhh…!! Gue enggak butuh penjelasan dari loe karena bukti ini udah cukup jelas. Ternyata ucapan loe itu enggak sesuai dengan kenyataannya ya? Munafik loe!” potong Revo memelototi Devhan dekat – dekat, kemudian melepaskan tangannya dari kerah baju Devhan dan bergegas pergi.
Laras menangis di hadapan Devhan, Kemal dan Nuno “Ras! Sorry!” ucap Devhan lemas namun tak digubris oleh Laras. Laras pergi meninggalkan Devhan, Devhan terdiam “Bos loe enggak apa – apa kan?” Kemal dan Nuno mencemaskan keduanya. Devhan tak berkata sepatah katapun, ia hanya tersenyum tanpa makna dengan tatapan yang kosong kemudian terduduk lemas.
***
Devhan melemparkan tas sekolahnya di lantai dan ia menjatuhkan dirinya di tempat tidurnya yang empuk dan luas. Matanya lurus menatap langit – langit kamarnya seraya memikirkan sesuatu. Tatapan matanya menampakkan rasa lelah yang bertumpuk di bathinnya, tanpa terasa airmatanya sudah menetes di pipinya “I was made a mistake. I wasn't make they happy but I was make they sad and hate me, what can I do for repair all? God help me for make they happy before I die and not come back again! Please!!” gumamnya seraya menangis.
Keesokan harinya di sekolah Devhan merasakan ada yang aneh dari hari – hari sebelumnya, ia merasa semua orang menatapnya sinis dan mendengar beberapa anak di sekolahnya membicarakan dia dengan nada sedikit berbisik. “ada apa sih? Kok mereka tatapannya aneh gitu sama gue?” cowok kelahiran enam belas tahun silam ini bertanya dalam hati seraya melirik ke arah siswa – siswa yang sedang menatapnya, ia berjalan perlahan sembari memikirkan kejadian pagi ini.
Sesampainya di kelas Devhan melihat semua anak dengan ekspresi yang sama seperti di luar kelas tadi, ia semakin tak mengerti dan bertanya – tanya dalam hati. Baru saja ia duduk tiba – tiba Kemal dan Nuno datang bersama Revo menemui Devhan dengan tatapan penuh empati “ternyata Devhan tuh maniak ya?” ujar Revo sinis “TMT” sambung Kemal “gue enggak nyangka punya bos maniak kayak loe? Gue enggak mau jadi temen loe lagi, nanti kalo gue punya cewek enggak menutup kemungkinan loe juga ambil punya gue lagi. Iya enggak?” Nuno menambahi “maksud loe bertiga apa sih? Jangan sembarangan ngomong dong!” sahut Devhan tak mengerti “dia pura – pura enggak ngerti Rev” sahut Kemal mengejek “dihajar dulu kali, brur, baru ngerti” tambah Nuno dengan senyuman sinisnya. Tanpa banyak kata mereka segera memukuli Devhan hingga Devhan jatuh tersungkur berlumur darah dan tak berdaya. Tak ada seorangpun yang mau menolongnya hingga beberapa orang guru datang menemui keempatnya.
Devhan dan yang lainnya dibawa ke ruang Bimbingan Konseling (BK), semuanya diinterogasi. “Devhan! Kamu ini benar – benar sangat memalukan pihak sekolah, kamu tahu tidak bahwa seks bebas itu sangat dilarang di manapun bukan hanya di sekolah kita?” ujar Kepala Sekolah terpotong “maaf Pak maksudnya apa? Ada hubungan apa saya dengan seks bebas?” potong Devhan membuat teman – temannya mencibir kesal “bohong tuh dia Pak!” sergah Revo seraya menunjuk ke arah Devhan yang duduk di sampingnya “Devhan kamu tuh masih saja mengelak padahal bukti sudah ada. Sudah, Bapak tak mau mendengar alasan kamu lagi, kamu sekarang juga saya keluarkan dari sekolah!” ujar Pak Riyadi selaku Kepala Sekolah yang terkenal otoriter dan perfectsionis itu membuat semuanya tersentak khususnya Devhan yang punya kasus “hah?? Pak enggak bisa gitu donk Pak…” ujarnya belum selesai “enggak bisa gimana?? Jelas – jelas kamu sudah melanggar peraturan mana bisa saya tidak menghukum kamu? Pelanggaran kamu itu terlalu berat jadi tidak bisa ditoleransi lagi, maka saya berhak mengeluarkan kamu dari sekolah”sergah Pak KepSek “tapi saya belum tahu kesalahan saya Pak” tukas Devhan benar – benar tak mengerti “sudah! Saya tidak mau mendengar alasan kamu lagi!” seru Pak Riyadi menyentak membuat Devhan tak mampu berkutik “baik Pak, saya permisi” sahut Devhan lemas. Sementara Devhan berduka justru ketiga kawannya malah tersenyum senang.
Devhan berjalan tanpa gairah tiba – tiba langkahnya dihalangi oleh seseorang, namun Devhan terhanyut dalam lamunannya hingga tak menyadari kehadiran Laras di hadapannya “Devhan!” sapa Laras membuat Devhan terbangun dari lamunannya. Devhan mengangkat kepalanya dengan lemas lalu menatap Laras yang ternyata sedang menangis “Laras kok loe nangis? Loe kenapa?” tanya Devhan seketika mencemaskan Laras “kok loe tanya kenapa? Gue juga dikeluarin dari sekolah” jawab Laras masih menangis “hah? Kok bisa?” Devhan lagi – lagi diberi kejutan hari ini “Devhan jangan – jangan loe belum liat foto – foto kita di mading?” sahut Laras menghentikan tangisannya “foto? Kita?” tanya Devhan lalu menggelengkan kepalanya tanpa makna “ikut gue yuk!” seru Laras seraya menarik tangan Devhan.
Beberapa menit kemudian Devhan dan Laras sudah berada di hadapan majalah dinding sekolahnya “liat!” seru Laras menunjuk ke arah mading “kok ada foto kita kayak gini? Enggak mungkin! Gue enggak pernah melakukan hal kayak gini sama loe kan?” ujar Devhan lagi – lagi tersentak melihat fotonya sedang tidur bersama dengan Laras “bodoh! Emang kita enggak pernah melakukan hal kayak gini tau!” sentak Laras sewot seraya menoyor kepala Devhan “terus kenapa ada foto kayak gini? Gue aja liatnya jijik. Oh gue ngerti, jadi ini yang bikin satu sekolah jauhin gue, ngomongin gue, dipukulin temen – temen gue sendiri dan dikeluarin dari sekolah?” ujar Devhan yang baru menyadari sebab keanehan hari ini “eeerrrggghhh.. loe baru sadar ya?” tanya Laras, Devhan menganggukan kepalanya “habis enggak ada yang mau kasih penjelasan ke gue maen hajar – hajar aja” jawab Devhan “ini ulah siapa ya? Ini tuh udah pasti fitnah!” sahut Laras kembali menitikkan airmatanya “loe inget enggak siapa orang yang benci atau enggak suka sama loe di sekolah ini?” Devhan sambil mengingat sedang ada masalah dengan siapa ia belakangan ini.
Keduanya terdiam sejenak memikirkan siapa orang yang membenci mereka “kayaknya gue enggak ada deh Van, loe?” sahut Laras seraya menggelengkan kepalanya “gue juga” balas Devhan lemas “terus ini kerjaan siapa donk?” tanya Laras benar – benar lemas “loe tenang aja ya! Kita cari tahu sama – sama gimana?” ujar Devhan memegang bahu Laras dan menatap Laras dekat – dekat, Laras menatap Devhan sembari menganggukkan kepalanya lemas dan menangis “gue enggak akan biarin hubungan loe dan Revo dirusak siapapun, gue bakal berusaha semampu gue asalkan loe percaya sama gue! oke?” lagi – lagi Laras hanya menganggukkan kepalanya dan menatap Devhan lalu keduanya tersenyum tanpa makna. “Gue enggak akan biarin siapapun menyakiti loe Ras, gue enggak akan biarin siapapun bikin loe nangis dan sedih lagi. Gue janji! Gue akan jadi pelindung loe diam – diam sebelum loe dimiliki siapapun dan gue pun akan pergi diam – diam ketika loe sudah ada yang memiliki. I Love you Laras” gumam Devhan dalam hati.
***
Devhan dan Laras terus berusaha mencari siapa pelaku yang sudah memfitnah mereka, namun mereka tak punya akses untuk masuk ke area sekolahnya. Mereka memutar otak untuk mencari cara agar bisa mendapat informasi dari sekolah namun tak ada satu orangpun yang dapat dimintai pertolongan. Mereka terus bekerjasama hingga tanpa mereka sadari hubungan mereka sudah akrab dan tidak lagi bermusuhan.
Sore ini keduanya duduk di salah satu bangku taman kota “Ras, loe sadar enggak sih kalo sekarang loe enggak jutek lagi sama gue?” “iya gue sadar kok. Mungkin karena gue ngerasa senasib sependeritaan sama loe, karena kita sama – sama korban dari perbuatan seseorang” “eeuum, apa loe enggak benci sama gue? Gue kan udah bikin hubungan loe dan Revo hancur?” “loe itu juga korban sama seperti gue jadi kenapa gue harus benci sama loe? Justru setelah kejadian ini gue baru tahu siapa loe sebenarnya” “emang gue yang sebenarnya gimana?” “ya ternyata loe enggak seburuk yang gue pikir selama ini. Maaf ya kalo gue selama ini udah salah menilai loe” “it’s okey! Gue emang anaknya kayak gini kok”. Keduanya terus berbincang hingga hari mulai menunjukkan gelap.
Hari ini Laras berjanji akan bertemu kembali dengan Devhan di bangku taman yang sama dengan kemarin, keduanya kembali ke sekolah dan mencari informasi. Mereka masuk menjadi penyusup di sekolah. Beberapa orang siswa mereka interogasi untuk mendapatkan data yang akurat. Sudah beberapa hari ini mereka menjadi penyusup di sekolahnya sendiri dan sudah banyak pula siswa – siswi yang mereka tahan dan diinterogasi, namun belum juga mereka menemukan seseorang yang tahu kejadian ini bahkan Laras hampir putus asa tetapi Devhan kembali menyemangati puteri impiannya itu.
Hari selanjutnya mereka kembali berjanji untuk bertemu, mereka berjanji bertemu pukul 10.00 pagi di taman namun jam sudah menunjukkan pukul 10.30 Devhan tak kunjung datang. Laras mulai resah menunggu Devhan sendirian di taman, ia terus mencoba menghubungi ponselnya Devhan namun tak ada yang menjawab panggilannya itu meski sudah kesepuluh kalinya ia mencoba menghubungi Devhan. Pikiran negatifpun mulai menguasai pikirannya “kenapa Devhan enggak datang dan sulit dihubungi? Apa dia mau lari dari masalah ini? Apa dia sudah lelah menghadapi semua ini? Ya Tuhan aku masih butuh ia untuk membereskan semua masalah ini, aku tak bisa menghadapi semua ini sendirian. Entah mengapa aku kini merasa hanya ia yang menjadi penyemangat hari – hari kelamku. Tuhan beri aku jawaban mengapa ia ingkar janji hari ini!” gumam Laras penuh galau.
Laraspun memutuskan untuk mencari data – data pelaku pemfitnahan dirinya seorang diri tanpa didampingi Devhan, akan tetapi Laras nampak sangat tidak bersemangat tanpa kehadiran Devhan kali ini. Laras kembali ke taman dan menangis seorang diri, di pikirannya saat ini penuh dengan rasa kecewa dengan Devhan, ia merasa Devhan sudah membohonginya dengan janji – janjinya. Hari – hari selanjutnya Laras tak pernah lagi bertemu dengan Devhan.
***
Lain cerita dengan Revo di sekolah, ia pun merasakan kesepian tanpa Laras namun kebencian hampir mengalahkan rasa cintanya. Ia pun selalu naik pitam tiap kali ingat dengan foto Devhan tidur dengan Laras mantan kekasihnya. Nuno sedang asyik melamun sendirian di sudut kelas “duh kenapa sih Si Bos harus berbuat hal seperti itu? Gue kangen sama loe Bos.. loe sekarang gimana kabarnya Bos? Lagi apa loe saat ini? Gue kangen bercanda sama loe Bos” ujar Nuno dalam hati seraya menenggelamkan kepalanya di atas meja.
Revo sedang duduk di salah satu bangku teras sekolahnya, tak jauh dari posisinya ia dapat mendengar suara Ami yang sedang berbincang dengan sahabat karibnya, Joanna. “Jo! loe tau enggak siapa yang udah nyebarin foto mesumnya si Laras?” tanya Ami terdengar suaranya agak samar – samar dari kejauhan “enggak, emang loe tau siapa pelakunya?” jawab Joanna cewek modis salah satu anggota Cheers di sekolahnya itu “ya tau lah, bukan Ami namanya kalau hal sepele kayak gitu aja enggak tau” sahut Ami dengan angkuh. Dari kejauhan Revo terus mendengarkan percakapan mereka (Ami dan Joanna), mendengar ucapan Ami ia semakin penasaran “oh ya? Siapa? Kasih tau gue donk Mi!” ujar Joanna bersemangat sekali nampaknya “sini gue bisikkin!” sahut Ami kali ini tak dapat didengar Revo.
Revo bergegas menghampiri Ami dan Joanna, mata Joanna melotot terkaget – kaget melihat Revo yang sudah berdiri di hadapan mereka “Revo?” sahut Joanna membuat Ami menoleh ke arah Revo yang ternyata sudah berdiri berkacak pinggang memelototi keduanya “Revo???” sahut Ami lebih tersentak daripada Joanna. Revo menatap Ami dekat – dekat membuat Ami merasakan gugup dan berkeringat dingin “jadi loe tau siapa yang udah nyebarin foto mesum itu?” tanya Revo semakin menambah rasa takut di dada Ami “JAWAB!” gertak Revo karena Ami tak berdiam diri dan tak mau menatap matanya “kalo loe enggak mau jawab, gue akan buat perhitungan sama loe!” Revo mengancam membuat Ami merasa kalah telak darinya “iya gue tau siapa pelakunya” jawab Ami pasrah sembari merundukkan kepalanya “siapa?” tanya Revo semakin detil.
Sejenak Ami terdiam mencoba mengatur napasnya dan menelan ludahnya berkali – kali, ia merasakan ketegangan yang sangat tinggi kali ini “sebenarnya… pelakunya itu…” ujar Ami terbata – bata “pelakunya itu…” Ami nampak ragu mengucapkan kata selanjutnya “bisa to the point enggak?” lagi – lagi Revo menggertak Ami sampai Ami berhasil menitikkan airmatanya seraya menganggukkan kepalanya pelan – pelan “maaf Rev… sebenarnya gue yang udah lakuin itu semua dan itu juga bukan foto asli…” ujar Ami benar – benar membuat tanda tanya besar di kepala Revo “jadi maksud loe semua ini tuh enggak bener? Semua ini cuma fitnah gitu?” Revo mempertegas ucapan Ami dan Ami hanya menganggukkan kepalanya “kok pikiran loe picik banget sih? Apa alasan loe lakuin semua itu? Loe kan tau Laras itu cewek gue dan Devhan itu sahabat gue, kenapa loe tega ngerusak hubungan gue dengan mereka? Hah?” ujar Revo dengan nada mulai meninggi.
“Maafin gue Rev! gue enggak maksud merusak hubungan loe dengan Devhan, gue cuma enggak suka lihat loe jadian dengan Laras” papar Ami dengan ekspresi penuh rasa bersalah “apa alasan loe enggak menyukai hubungan gue dengan Laras? Hah?” Revo masih tak mengerti dengan tujuan Ami sebenarnya “karena…” sahut Ami masih ragu “karena gue tuh sebenernya udah lama suka sama loe Rev. Gue enggak suka kalian jadian, kenapa loe lebih memilih Laras yang baru loe kenal dibandingkan gue yang udah lama memerhatikan loe? Kenapa loe enggak pernah sadari kehadiran gue di setiap saat – saat sulit loe yang selalu berusaha hibur loe? Hah?” ujarnya membuat Revo tersentak dan kembali mengingat ke belakang, mengingat semua jasa – jasa Ami yang tak pernah ia sadari.
Ami masih menangis tersedu – sedu sedangkan Revo masih terdiam dan tersentak mendengar pernyataan Ami yang tak pernah diduga sebelumnya “mungkin cara gue ini salah tapi gue bener – bener nyesel sudah bikin orang yang gue cintai sedih dan terluka. Demi Tuhan Rev gue khilaf, maafin gue ya Revo! Gue siap terima semua resiko dari perbuatan gue Rev, tapi asal loe tau gue enggak akan pernah berhenti berkorban demi loe karena gue sungguh – sungguh mencintai loe” ujar Ami masih terisak – isak membuat Revo benar – benar tak dapat berkata apa – apa lagi selain diam dan merenungi setiap perkataan yang diucapkan Ami.
Revo mengangkat kepalanya dan menatap Ami dekat – dekat “thank’s buat kejujuran loe, thank’s buat perhatian dan waktu loe dan thank’s buat cinta loe tapi maaf gue enggak bisa balas semua itu, gue enggak bisa mencintai loe karena gue lebih nyaman jadi teman sama loe dan gue sudah mencintai Laras. Kita dekat enggak harus jadi pacar kan? Kita jadi sahabatpun bisa jauh lebih dekat, gimana?” ujar Revo mencoba menghargai Ami dan berusaha memaafkannya, Ami menganggukan kepalanya lemas “gue maafin loe tapi loe janji sama gue kalo loe enggak akan pernah lakuin ini lagi dan loe mau mengakui kesalahan ini di depan Laras, Devhan, Kepsek beserta Guru – guru dan di depan anak – anak!! Gimana? Bersedia?” Revo mengajukan persyaratan “hah? Tapi gue pasti bisa dikeluarin dari sekolah Rev?” sahut Ami tersentak “tadi loe bilang loe siap terima semua resikonya? Denger! Setiap perbuatan pasti ada resikonya, ada akibatnya. Hanya orang yang berjiwa besar yang mau menerima segala macam akibat dari perbuatannya sendiri dan hanya yang berjiwa pengecut yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Emang loe mau dibilang pengecut sama semua orang?” ujar Revo menasihatinya “enggak! Oke gue bersedia tapi benerkan loe mau maafin gue setelah gue lakuin itu semua?” ujarnya menggelengkan kepalanya dengan cepat, Revo menganggukkan kepalanya sembari melempar sebuah senyuman “thank’s!”.
***
Seperti hari – hari sebelumnya, Laras duduk berjam – jam menghabiskan waktu di taman sendirian karena sejak dikeluarkan dari sekolah ia tidak mempunyai kegiatan apa – apa lagi. Ia merundukkan kepalanya seperti sudah tak punya semangat hidup, airmatanya terjatuh di atas punggung tangannya yang tergeletak tak berdaya di atas pahanya. Tiba – tiba matanya menangkap beberapa sosok kaki yang tengah berdiri tak jauh dari hadapannya, dengan sigap ia menghentikan tangisannya lalu mengangkat kepalanya berusaha menatap siapa orang – orang yang ada di hadapannya. Betapa tersentaknya ia melihat sosok yang berdiri di hadapannya itu adalah Revo, Kemal, Nuno dan Ami.
Matanya terbelalak lebar dan mulutnya seakan terkunci rapat sehingga tak mampu mengeluarkan sepatah katapun “Laras tadi kita ke rumah loe tapi kata orang rumah loe ada di sini dan ternyata benar saja loe ada di sini” ujar Revo membuyarkan lamunan cewek cantik itu “hah? Emang kalian ada perlu apa cari gue? Bukannya kalian udah jijik sama gue dan Devhan? Hah?” tanya Laras heran “Ras kita ke sini mau menjelaskan sesuatu, maaf kita udah jahat banget sama loe karena enggak bisa percaya sama loe dan jauhin loe! Loe mau kan maafin kita semua?” Revo duduk di sampingnya seraya menatap paras ayu Laras “kenapa kalian tiba – tiba berubah pikiran? Apa kalian udah tau kalau semua itu enggak bener?” Laras masih belum mengerti dengan situasi yang ada di hadapannya saat ini “iya Ras, sebenernya itu perbuatan gue. Gue yang edit foto loe dan Devhan terus di publikasikan ke mading.. gue minta maaf Ras karena udah jahat sama loe…” ujar Ami belum selesai “jadi loe pelakunya? Kenapa sih loe tega banget sama gue? Padahal gue itu enggak pernah jahat sama loe Mi?” potong Laras seraya berdiri menghampiri Ami dan menitikkan airmatanya “gue enggak maksud jahat sama loe Ras, gue cuma enggak suka liat loe jadian sama Revo karena gue suka sama Revo. Gue minta maaf ya! Gue rela kok tanggung hukuman apapun dari loe dan Devhan bahkan kalau loe dan Devhan enggak mau maafin gue pun gue terima…” belum sempat Ami menyelesaikan kata – katanya tiba – tiba Laras menamparnya hingga semuanya terdiam “iya sekarang loe ngomong kayak gitu karena loe udah puas liat gue dan Devhan hancur kan? Bersaing itu boleh tapi enggak gitu caranya Mi! gue enggak nyangka pikiran loe sepicik itu Mi? pikiran loe tuh kuno banget, gue kecewa banget sama loe!” ujar Laras setelah menampar keras pipi Ami “gue khilaf, gue minta maaf banget sama loe Ras!” Ami nekat hendak bertekuk lutut di hadapan Laras.
Laras dan yang lainnya sangat tersentak melihat aksi nekat cewek yang bertubuh tinggi 170 cm itu. Laras terdiam sejenak sembari terus mempertimbangkan keputusannya untuk memaafkan atau tidak. Akhirnya Laras mau memaafkan Ami juga dan mereka sekarang akan menemui Devhan di rumahnya, Laras menceritakan kebersamaannya dengan Devhan selama mereka mencari tahu kebenaran foto – foto itu “jadi Devhan tiba – tiba enggak nemuin loe lagi dan enggak ada konfirmasi apa – apa ke loe?” tanya Revo setelah mendengar cerita Laras, Laras menggelengkan kepalanya lemas kemudian merunduk terdiam.
Mereka sampai di depan pintu rumah Devhan, nampak sepi sekali di rumahnya. Kemal memencet tombol bel yang tertempel di dinding sebelah kanan pintunya, satu sampai dua kali memencet belum juga ada respon hingga ketiga kali baru ada suara seseorang yang terdengar samar – samar dari dalam rumah berkata “tunggu sebentar!” dan tak lama kemudian pintu terbuka. Muncul wajah seorang ibu tua yang berpakaian daster hampir terlihat kotor dengan bumbu dapur “ekh Mas Kemal, Mas Nuno dan Mas Revo? Ada apa ya?” ujar Ibu itu seraya tersenyum lebar “Bik ada Devhannya enggak?” tanya Kemal malah membuat Ibu tua yang ternyata seorang pelayan di rumah Devhan itu berbalik tanya “lho emangnya Mas Kemal ndak tau toh kalau Mas Devhan di Rumah Sakit?” ujar si Bibik nampak polos “hah? Rumah Sakit?” sahut Revo dan yang lainnya terkejut “waduh, maaf Mas – Mbak sebenernya si Bibik ndak boleh bilang ke siapa – siapa kalau Mas Devhan sakit tapi si Bibik malah keceplosan” sahut pelayan yang biasa disapa Bik Darsim ini nampak menyesal dengan perkataannya “emang Devhan sakit apa Bik?” tanya Revo “aduh maafin Bibik Mas! Bibik nda berani bilang, mendingan Mas – masnya dan Mbak – mbaknya langsung ke Rumah Sakit saja, tanya langsung sama Nyonya!” seru Bik Darsim.
Mereka segera bergegas menuju Rumah Sakit di mana Devhan dirawat inap. Selang waktu beberapa menit, akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit. Mereka menyusuri setiap lorong Rumah Sakit yang terasa dingin dan hening sembari melirik ke setiap ruangan, mereka mencari ruang I.C.U. Dari kejauhan nampak seorang Ibu sedang duduk di salah satu kursi ruang tunggu di depan I.C.U “itu kan Tante Denna, ayo cepetan kita temuin!” ujar Revo begitu matanya melihat sosok yang ia kenal.
Kelimanya menghampiri Tante Denna yang sedang duduk sendiri dengan wajah mendung “Tante Denna!” sapa Revo “Revo, Kemal, Nuno?? Kok kalian bisa di sini?” terlihat sekali Tante cantik itu tersentak melihat kedatangan Revo dan kawan – kawan “iya Tante kita tau dari Bik Darsim tapi kita mohon jangan marahin Bik Darsim ya!” sahut Revo membuat Tante Denna terpaksa menganggukkan kepalanya “makasih Tan, oh ya Tan kenalin ini Laras dan Ami teman Devhan juga, Ras, Mi ini Ibunya Devhan” ujarnya memperkenalkan keduanya.
Tante Denna menceritakan keadaan Devhan saat ini, ternyata Devhan selama ini sering menghilang karena ia mengidap penyakit Leukemia kronis Chronic myeloid leukemia (CML) dan sering keluar masuk Rumah Sakit, mereka semua sangat tersentak begitu mendengar penjelasan Tante Denna “jadi selama ini Devhan menghilang bukan karena menyerah tapi karena sakit? Ya Tuhan aku sudah berburuk sangka dengan Devhan, bagaimana ini?” gumam Larasdalam hati seraya menggigit bibir bawahnya “Ya Tuhan selama ini kita egois banget? Musuhi, jauhi dan cemoohi Devhan di saat – saat sulitnya? Kita ini sahabat macam apa?” ujar Revo diamini oleh kawannya yang lain. Semua terdiam merenungi kesalahan mereka, mereka semua duduk bersebelahan dengan Tante Denna yang sedang sibuk menghubungi suaminya melalui pesan singkat di ponselnya.
“Tante! Saya boleh enggak nemuin Devhan sebentar aja?” tanya Revo meminta izin dan Tante Denna pun menganggukkan kepalanya “terima kasih Tan!” ujarnya lalu pergi menuju ruang I.C.U. Beberapa menit kemudian Revo sudah keluar dari ruang I.C.U dengan wajah penuh duka, ia berjalan lemas menghampiri teman – temannya seraya merundukkan kepalanya “guys! Devhan bener – bener kritis, gue enggak tega liat kondisinya sekarang. Gue bener – bener takut kehilangan dia sebelum kita sempat minta maaf ke dia…” ujarnya terpotong “husss!!! Loe ngomong jangan sembarangan donk! Kita tuh enggak boleh pesimis, kita harus yakin kalau Devhan tuh pasti sembuh! Kita harus doain Devhan bukan ngomong begitu! Jangan bikin kita semua tambah panik deh!” sergah Laras penuh semangat “iya Rev loe sembarangan banget sih ngomongnya?” tambah Nuno “iya sorry! Mungkin gue cuma terlalu kuatir jadi berpikir macem – macem… sorry ya guys!”.
***
Beberapa hari ini kondisi Devhan belum juga menunjukkan tanda – tanda kemajuan, kondisinya masih sangat lemah dan mengkhawatirkan. Seluruh organ tubuhnya terhubung dengan alat – alat medis, detak jantungnya masih sangat lemah jauh dari normal. Keadaannya yang tak kunjung membaik, ini membuat semua kawan – kawannya semakin cemas, setiap malam mereka bergantian menjaga Devhan yang masih terbaring tak berdaya di ruang I.C.U.
"Guys! sumpah ya sampe saat ini gue masih belum percaya kalau Si Bos sakit parah. Si Bos tuh kenapa sih enggak pernah mau cerita ke kita – kita tentang keadaan dia yang sebenarnya?” ujar Kemal tak habis pikir “iya, apa dia enggak anggap kita sahabatnya lagi ya karena kita udah jahat banget sama dia?” ujar Nuno menambahi “bukan! Tapi gue rasa dia begitu bukan karena hal itu tapi karena dia enggak mau nyusahin kita” tambah Revo dengan tatapan kosong “ekh gue baru inget, dulu Si Bos pernah tiba – tiba nanya gini ke gue ‘No, seandainya loe tahu kapan loe akan mati apa yang akan loe lakukan disisa waktu loe?’ gitu katanya. Gue sih enggak curiga terjadi apa – apa sama dia cuma gue aneh aja gitu sama pertanyaannya, setelah gue jawab terus dia ngeluyur balik” papar Nuno kembali mengingat pertanyaan yang pernah dilontarkan sahabat kecilnya itu “kapan dia tanya kayak gitu ke loe?” tanya Revo mulai antusias “dulu pas kita nginep di rumah loe, Mal sebelum kita musuhin Si Bos” jawab Nuno dengan nada yang sama.
Sepulangnya dari sekolah Revo and the genk beserta Laras dan Ami kembali ke Rumah Sakit untuk menjenguk Devhan yang tadi pagi dikabari sudah terbangun dari komanya. Dengan perasaan penuh rasa senang mereka pun bergantian memasuki ruang I.C.U, untuk bagian pertama ada Kemal dan Nuno yang sudah menyapanya dan mereka lega bisa melihat Devhan tersenyum meskipun masih nampak lemah sekali, kemudian masuk Ami ikut menyapanya namun belum ada yang berusaha jujur mengatakan inti permasalahan mereka dan yang terakhir menemui Devhan adalah Revo dan Laras “hai Dev!” sapa Revo tersenyum simpul dan Devhan membalas sapaannya dengan suara yang hampir tenggelam “hai juga!”. Revo dan Laras berusaha meminta maaf dan berusaha terlihat baik – baik saja di hadapan Devhan.
***
Setelah beberapa hari berikutnya Devhan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan keadaannya sudah nampak
lebih baik dari pada hari – hari sebelumnya. Semuanya berkumpul di ruang rawat
Devhan dan mereka mulai memberanikan diri untuk menjelaskan yang sebenarnya
terjadi “Dev ada yang mau kita obrolin sama loe makanya kita semua kumpul di
sini” ujar Revo memulai “silahkan!” sahut Devhan “ayo Mi ngomong!” seru Revo
mendorong – dorong tubuh Ami “Dev… gue… gue mau minta maaf sama loe….” Ujar Ami
tak berani menatap Devhan “minta maaf?” tanya Devhan heran “sebenernya gue… gue
yang udah sebarin foto loe dan Laras, Vhan!..”ujarnya terpotong “apa? Maksud loe
apa lakuin gitu ke gue? Emang gue udah buat kesalahan apa sama loe sampe - sampe loe berani fitnah gue kayak gitu hah? seingat gue selama ini hubungan kita baik-baik aja dan gue emang enggak pernah mau cari masalah sama loe..." potong Devhan sudah terburu emosi "Vhan, tahan dulu emosi loe! biar dia selesain ucapannya dulu, okey?!" ujar Revo mencoba menenangkan kondisi Devhan "loe enggak punya salah apa - apa Vhan, gue cuma manfaatin loe sebagai senjata merusak hubungan Revo dan Laras karena gue enggak suka liat mereka jadian" lanjut Ami mulai mengangkat kepalanya "kenapa?" tanya Devhan semakin tak mengerti "gue suka sama Revo.. Maafin gue ya Vhan udah melibatkan loe demi keegoisan gue! gue nyesel banget Vhan udah buat susah semua orang. kalo gue harus dibenci dengan kalian pun gue terima karena itu emang resiko dari semua perbuatan gue terhadap kalian" ujarnya pasrah seraya menitikkan airmatanya.
Semuanya terdiam, merundukkan kepalanya. Ruangan semakin terasa dingin melengkapi suasana yang sedang menegang. "ya udah lah semuanya juga udah terjadi kan?, yang penting sekarang loe udah minta maaf sama kita - kita dan udah mau berterus terang, gue hargai banget atas keberanian loe buat mengakui semua ini karena gue tau mengakui semua ini tuh enggak semudah yang dibayangkan, so enggak usah dibahas lagi okey?!. gue udah maafin loe kok" ujar Devhan bijak memecah keheningan sembari melayangkan senyuman simpul ke arah Ami. Semuanya tersentak mendengar pernyataan Devhan yang tak terduga dan semuanya pun mau memaafkan Ami "makasih ya Vhan! gue enggak nyangka kalo hati loe semulia ini dan ini buat gue semakin menyesali perbuatan gue. Gue janji enggak akan pernah mengulangi kesalahan seperti ini lagi kepada siapapun. Thank's banget ya Vhan atas kebijaksanaan loe!" ujar Ami seraya memeluk tubuh Devhan yang masih terduduk di tempat tidurnya "ya sama - sama" balas Devhan tersenyum.
"Guys! kalian bisa tinggalin gue, Revo dan Laras sebentar gak?! Ada yang mau gue bahas tanpa kalian. Bisa?" ujar Devhan "ya Bos!" ujar semuanya lalu berjalan keluar meninggalkan mereka bertiga (Devhan, Laras dan Revo) di kamar.
"ada apa Bos?" tanya Revo mendekati posisinya ke arah Devhan "ya Vhan ada apaan sih?" sambung Laras "kalian masih saling sayang enggak?" tanya Devhan membuat Revo dan Laras saling bertatapan terdiam "Bos kok pertanyaannya...?" "udah jawab aja dan gue minta loe berdua jujur!" "ya gue ikhlas kok Bos kalau loe juga jadian sama Laras" "Heh enggak nyambung banget sih loe oncom? Gue tanya loe masih sayang enggak sama Laras? lagian siapa juga yang mau jadian sama cewek galak macem dia?" "Heh!! Maksud loe? Cewek galak?" "hehe...gitu aja marah,enggak kog bukan gitu maksud gue. akh udahlah gue tuh serius tanya masalah itu sama loe berdua. kalian masih saling sayang enggak?". Devhan membuat keduanya terdiam sesaat "iya sebenarnya gue masih sayang banget sama Laras tapi enggak tau deh Larasnya gimana?" "loe Ras masih suka enggak sama Revo?" "iya gue juga masih sayang sama Revo Dev", lalu Devhan mencoba meraih tangan Revo dan Laras yang kemudian ia satukan kedua tangan tersebut sambil berujar "gue sayang banget sama loe Ras tapi gue jauh lebih sayang sama Revo jadi gue mau Revo dan loe bahagia! Sooo.. loe berdua mau kan jadian lagi demi gue??" Revo dan Laras pun menganggukkan kepalanya bersamaan dengan lambat "Revo gue titip Laras ya! Jagain dia buat gue! kalo kontrakan tuh namanya oper kontrak, nah kalo gue kan enggak punya kontrakan tapi punyanya cinta jadi gue oper cinta gue aja yah??" "Bos kog loe ngomongnya gitu sih? meskipun loe enggak menyuruh gue pasti akan jaga dia dan mencintai dia dengan baik!" "thank's! kalo gitu gue tenang dengernya karena gue enggak mau liat airmata dia terjatuh lagi karena sikap tempramen loe, oke?" "siap Kapten! Tugas akan segera saya laksanakan!" lalu ketiganya tersenyum ceria seakan tak ada lagi beban yang menumpuk di dada mereka. "thank's God! masih mau memberi saya kesempatan untuk menyatukan mereka kembali dan melihat semuanya bahagia, kalau sudah begini saya siap jika harus menghadap-Mu saat ini juga" gumam Devhan dalam hati merasakan ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
***
Beberapa hari ini Devhan menunjukkan keadaannya semakin membaik dan ia selalu bersikap penuh keceriaan seperti dulu sebelum ia terserang penyakit ganas tersebut. Semuanya pun nampak bahagia dengan keadaan Devhan yang tak menunjukkan masalah apapun pada kesehatannya.
Semuanya tertidur pulas di ruangan Devhan di rawat, mereka bisa tidur karena tenang dengan kondisi Devhan namun tiba - tiba Devhan terbangun dan nampak sedang kesakitan dan ia tiba - tiba muntah berkali - kali membuat semua yang menjaganya terbangun dari tidurnya. Mendadak kondisinya gawat, kemudian ia dibawa kembali ke ruang UGD. Semua sibuk berdoa di depan ruang UGD dan nampak sekali rasa sedih yang amat sangat besar dan rasa khawatir yang sangat luar biasa di guratan - guratan wajah mereka.
Satu jam kemudian Dokter keluar dari ruangan UGD yang dingin itu dengan ekspresi yang sudah tidak bersahabat lagi... Ternyata makna ekspresi duka itu benar, Devhan sudah sampai di tahap akhir dan sudah berjuang sekuat tenaga namun rasa sakit dan Leukemia itu jauh lebih kuat melawan kekuatan Devhan. Devhan sudah tak sanggup melawan penyakitnya, semua menangis bahkan Tante Denna jatuh pingsan begitu mendapatkan keterangan dari Dokter.
Setelah Devhan di urus kepergiannya, Revo dan Laras masuk ke ruang rawat inap Devhan yang sudah kosong dan sudah dirapikan, airmatanya terjatuh dengan pikiran terus mengingat - ingat masa - masa indah dan kelamnya dengan Devhan "gue janji Vhan gue akan jaga titipan loe dan gue enggak akan pernah lukai dia sedikitpun. Maafin semua kesalahn gue ya Vhan. Gue sayang banget sama loe melebihi apapun, loe akan teta hidup di hati gue di hati kita semua. Selamat jalan sobat! Semoga tenang dan bisa berjumpa lagi di kehidupan lain. We love you and We still miss you until you back" ujarnya seraya menatap foto Devhan yang berpose maskulin dengan senyum manisnya yang terbingkai indah di wajahnya, lalu menatap Laras dan mencium keningnya. Tak lama kemudian masuk lah Nuno dan Kemal yang tersenyum ke arah Revo dan Laras lalu menghampiri mereka, merangkul Revo seraya menatap foto Devhan yang terbingkai yang masih dipegang erat - erat oleh Revo "Selamat tinggal sobat... We love you forever.." sahut Nuno dan Kemal seraya menitikkan airmata dan memaksa untuk tersenyum.
Fin

This comment has been removed by the author.
ReplyDelete