2/09/2011

Dennis Vs Janice


DENNIS VS JANICE
( Cinta Salah Alamat )

               "Dennis!" seru seorang cewek cantik berambut hitam panjang itu meneriaki Dennis dengan suara keras bercampur emosi hingga membuat cowok yang bernama Dennis tersebut terkaget – kaget "aduh! Jangan – jangan Janice udah tau lagi kalo itu kerjaan gue?" gumam cowok tampan berhidung mancung itu menggigit bibirnya dan kemudian lari menjauhi rivalnya, Janice. Mereka bertemu dan berkejar – kejaran di lingkungan sekolah seperti kucing dan anjing."Kemana tuh si Dennis?" sahut cewek bernama lengkap Janice Nadira itu celingukkan kehilangan jejak Dennis.
              Dennis melangkahkan kakinya,mengendap – endap masuk kelas namun belum sempat Dennis memasuki kelasnya dari balik pintu Janice sudah bersiap – siap akan menjewer telinga lawannya. Dennis merintih kesakitan "kena loe ya!" seru Janice puas, masih belum melepaskan telinga Dennis yang sudah memerah "iya – iya gue minta maaf.. ampun Jan!" cowok berkulit putih ini memohon – mohon seraya kesakitan "jadi bener kan itu kerjaan loe? Ngaku!" gertak Janice "kalo loe mau ngaku, baru gue lepasin jeweran gue tapi kalo enggak…" lanjut Janice seraya menarik telinga Dennis lebih keras lagi "aduh…duh…iya – iya itu kerjaan gue. Lepasin akh!" Dennispun mengakui kesalahannya dengan merintih – rintih kesakitan, kemudian Janice melepaskan jewerannya dari telinga Dennis "tuh kan! gue udah tebak itu pasti kerjaan loe. Ekh loe tuh boleh bersaing tapi sportif donk! Jangan curang kayak gitu! Licik banget sich loe jadi anak?" ujar cewek berkulit putih itu emosi "I'm not cheated !" bantah cowok yang punya nama lengkap Dennis Radhika Alkatiry ini seraya memelototi Janice "yes, you are! Memanipulasi jawaban ulangan seseorang itu apalagi namanya kalo bukan curang?" sergah Janice dengan tatapan yang sama.
               Setelah diketahui benar itu perbuatan curang Dennis akhirnya Janice melaporkannya kepada Ibu Syifa selaku Guru Matematika di kelasnya dan Dennis telah mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Ia mendapatkan skorsing tidak boleh masuk sekolah selama tiga hari dan ia tidak mendapatkan nilai mata pelajaran Matematika. Ia benar – benar menyesali perbuatanya dan Janice semakin benci dengan cowok yang terkenal punya senyuman menawan itu.
             Dennis memang terkenal sebagai saingan terberat Janice di sekolah dalam urusan prestasi. Mereka sama – sama menjadi juara di kelas, nilai – nilai mereka sama – sama menduduki posisi tertinggi. Mereka juga sama – sama pernah menjuarai olimpiade cerdas cermat tingkat nasional. Bahkan mereka tidak hanya bersaing di bidang akademis saja, di bidang nonakademis mereka juga bersaing. Contohnya dalam kompetisi drama antarsekolahpun mereka masih bersaing untuk menjadi yang terbaik, maka tak aneh jika persaingan mereka sudah diketahui seantero sekolahnya karena mereka sama – sama punya potensi yang berkualitas.


* * *

            Dennis sengaja menjatuhkan lembaran hasil ulangan Bahasa Inggrisnya yang mendapatkan nilai 100 di samping tempat duduk Janice "ups…!! Jatuh!" sahut cowok berkaca mata minus itu mulai memamerkan nilainya di depan cewek bermata indah itu. Seakan tak ingin mengalah,Janicepun mengibaskan lembar ulangannya seperti kipas di depan Dennis. Dennis manyun melihat nilai Janice ternyata sama dengannya, kemudian ia melengos pergi dan Janice tersenyum licik bias membalas rivalnya "puas gue lihat tampang loe. Heu.." gumamnya dalam hati.
           Ketika jam istirahat, Janice sudah ada di kantin dengan dua sahabat karibnya sambil makan dan sekedar berbincang – bincang "kenapa loe, Nice? Kayaknya happy banget?" tanya Keyko salah satu sahabatnya seraya mengerlingkan kedua bola matanya kea rah Janice dan Lenka "iya gue lagi happy karena nilai Bahasa Inggris gue kali ini enggak kalah bagus sama si Dennis dan gue..hehehe…" Jawab Janice dipotong dengan tawa liciknya "berhasil bales kesombongannya si Dennis…yeeaahh!!" lanjut cewek kelahiran 31 Juli 1994 ini seraya bersorak gembira. Ke dua temannya hanya bias menggeleng – gelengkan kepalanya heran seraya ikut tertawa "gue heran deh sama loe berdua. Persaingan kalian semakin hari semakin kuat, kemampuan kalian berdua itu udah balance antara satu sama lain tapi kenapa kalian berdua malah lebih sering ribut? Kenapa kalian berdua enggak mencoba untuk akur dan menyatukan kemampuan kalian yang amazing itu untuk menciptakan sesuatu yang lebih berguna? Daripada ribut!" Lenka sahabat Janice memberi advice untuk Janice "setuju tuch Len!!" Keyko menambahi seraya mengacungkan jari telunjuknya "gue kerjasama ama tuh professor gadungan? Hah? Udah gila ya loe berdua? Ogah deh gue turutin saran loe itu" tukas Janice sewot "iya, kenapa enggak? daripada loe ribut mulu, emangnya loe enggak capek apa ribut melulu? Kita aja sampe bosen lihatnya, bener enggak key ?" balas cewek yang hobi ikut latihan yoga ini seraya menyuapkan sepotong bakso ke dalam mulutnya "yoap!" jawab Keyko lagi – lagi sependapat dengan Lenka. Janice hanya mencibir kesal.
             Setiap hari Dennis dan Janice terus bersaing untuk menjadi yang terbaik, mereka juga masih saling memamerkan nilai – nilai terbaik mereka "heh! Monkey! Loe tuh ya enggak ada capeknya apa tiap hari pamer?" sahut Janice kesal ketika suatu hari Dennis kembali memamerkan nilai ulangannya yang mendapatkan angka 90 "heh! Loe sendiri enggak ada capeknya ngikutin gue buat pamer" balas Dennis seraya mencibir "ekh lagian loe dapet nilai 90 aja belagunya selangit. Gue aja yang dapet nilai 100 enggak sombong" tukas cewek keturunan Jawa ini mencibir angkuh seraya menunjukan angka yang tertera di lembar ulangan pelajaran Kimianya.
            Dennis mengerutkan dahinya melihat nilai Janice lebih besar darinya "makanya loe enggak usah pamer melulu di depan gue karena mau sebanyak apapun loe pamer tetep aja loe kalah sama gue" ejek Janice sembari menjulurkan lidahhya yang kemudian pergi meninggalkan cowok yang hobi baca buku itu "ihhh…reseh! Kok nilai dia lebih tinggi dari gue sih ?" sahut cowok kelahiran 31 Juli 1994 ini gelisah bercampur kesal.
***


               Minggu depan akan diselenggarakan Olimpiade sastra antarsekolah Sejabodetabek dan para guru ahli sastra memilih Dennis sebagai perwakilan dari sekolah mereka dan Janice sebagai peserta cadangan jika Dennis berhalangan hadir. Janice benar – benar tidak terima keputusan para guru pengajar namun ia mengerti kenapa para guru memilih Dennis . Ia tahu kemampuan Dennis di bidang sastra memang lebih baik darinya, maka cewek penggemar mie ayam itu berusaha sportif dan mendukung rivalnya tersebut meskipun itu sulit baginya.
Setiap hari Dennis dan Janice berlatih sastra dengan Pak Darsono sebagai pengajar mereka namun Pak Darsono nampak kewalahan menghadapi kedua anak berprestasi ini yang selalu rebut di sela- sela latihannya.
             Setelah satu pekan mereka berlatih, akhirnya tiba juga hari yang mereka nanti – nanti. Keduanya nampak sudah siap untuk mengikuti Olimpiade tersebut tetapi Dennis hari ini nampak tidak seceria hari – hari biasanya, wajahnya nampak pucat pasi dan ia tidak banyak bicara seperti biasanya, entah karena gugup menghadapi Olimpiade atau memang sedang tidak enak badan? "kenapa loe? Nerveous ya ? kok mendadak pendiam ? heu..?" Tanya Janice nampak mengejek "nerveous? Seorang Dennis?" sahut Dennis terdengar lemas namun stay dengan gaya angkuhnya "enggaklah!" lanjut cowok berambut kecokelatan itu dengan penuh rasa percaya diri membuat Janice mencibir mengejeknya.
            Olimpiade pun sudah dimulai bahkan sudah sampai pada pertengahan acara, sejauh ini Dennis masih memimpin dengan skor tertinggi. Lawannya dari perwakilan Bogor dan Tangerang pun nampak kewalahan menghadapi Dennis, namun di tengah – tengah acara tiba – tiba Dennis jatuh pingsan entah karena apa. Mendekati akhir acara, Janice turun menggantikan Dennis karena Dennis harus dilarikan ke Rumah Sakit terdekat. Merekapun berhasil memenangkan Olimpiade Sastra tersebut.
            Pukul 19.00 WIB Janice sudah sampai di Rumah Sakit, entah mengapa ia ingin sekali menjenguk rivalnya tersebut. "Malam!" sapa Janice dari balik pintu kamar inap Dennis "malam!" balas Dennis dengan suara lirih "kenapa loe? Kok bisa pingsan gini sich? Payah loe!" ejek Janice menyunggingkan sebuah senyuman mengejek "gue kasihan sama loe, gue takut loe nangis gara – gara loe jadi cadangan makanya gue ngalah supaya loe bisa ngerasain jadi finalis. Soalnya kalo loe nangis bisa berabe urusannya" jawab Dennis dengan ejekan pula seraya tertawa "sialan loe! Pake ngejek takut gue nangis segala lagi, udah sich loe ngaku aja kalo loe tuh sebenernya penyakitan!" balas Janice membuat Dennis makin terpingkal – pingkal tertawa "hahaha…. Sialan loe! Ya tapi thanks deh loe udah menangin Olimpiadenya. Thanks ya! Loe hebat, mungkin kalo enggak ada loe sekolah kita udah gugur kali gara – gara gue pengsan" ujar Dennis masih sesekali menyelipkan tawanya sembari tersenyum simpul 'loe baru tahu gue hebat? Dari dulu kali!!! Hahaha…" ujar Janice narsis "ck..ck..ck… nyesel gue muji – muji loe" sahut Dennis membuat keduanya tertawa kompak.


***
             Setelah peristiwa itu kini hubungan Dennis dan Janice menjadi lebih baik dari sebelum – sebelumnya bahkan mereka berdua sudah berkomitmen untuk tidak ribut lagi seperti dulu dan mencoba bekerjasama untuk memajukan prestasi sekolah mereka. Di pentas drama sekolahpun mereka dijadikan lawan main dan mereka berperan sebagai sepasang kekasih.
             Seiring berjalannya waktu, benih – benih cinta diantara mereka mulai tumbuh. Suatu ketika, di saat sekolah sedang mengadakan acara studytour di Yogyakarta. Mereka sangat memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Di pinggir danau buatan di daerah pariwisata Kaliurang, Janice sedang duduk sendiri menikmati kencangnya udara yang berhembus dari atas gunung tiba – tiba seseorang mengulurkan tangannya ke arah Janice. Janice menengadahkan kepalanya menuju sumber uluran tangan tersebut "Dennis?" sahutnya sedikit tersentak dan Dennis hanya tersenyum simpul "naik perahu bebek itu yuk!" sahut cowok berzodiak Leo ini seraya menunjuk ke arah perahu bebek yang berada di pinggir danau "yuk!" balas Janice seraya meraih tangan Dennis dan mencoba berdiri. Keduanya mengendarai perahu bebek tersebut. "Gue harus ngomong sekarang! Timingnya udah pas banget nih" gumam cowok yang hairstylenya ala Justin Bieber ini dalam hati 'Nice, loe cantik banget sih hari ini?" sahut Dennis seraya membenarkan posisi kacamatanya yang sebenarnya tidak berantakkan "duh kok aku jadi speechless gini ya? Enggak beres nih perasaan" kali ini giliran Janice yang bergumam dalam hati. Janice melempar sebuah senyuman ringan ke arah Cowok manis di sampingnya yang masih menatap wajahnya dengan kusyu "Nice, belakangan ini gue ngerasa ada yang enggak beres di diri gue… gue jadi sering kepikiran loe gitu, gue juga jadi pengen deket loe terus dan parahnya lagi gue enggak suka banget kalo liat loe lagi berduaan sama cowok lain. Gue kenapa ya, Nice?" ujar Dennis jujur sampai tubuhnya berkeringat dingin "kok sama ya sama gue?" tanya Janice dalam hati "gue juga enggak ngerti kenapa tuh!" jawab Janice belagak tenang "apa ini yang dibilang jatuh cinta ya, Nice?" ujar cowok bermata indah itu perlahan menoleh ke arah cewek cantik di sampingnya "hah? Masa sich?" tanya Janice tersentak "loe ngerasain hal yang sama enggak? Jujur deh sama gue!" pertanyaan Dennis benar – benar membuat Janice salah tingkah sekaligus mati kutu "itu dia! Kayaknya gue juga ngerasain hal yang sama ma loe, terus kita harus gimana dong? Sahut Janice belagak bingung "ya harus jadianlah! Berarti loe mau kan jadi cewek gue?" sahut Dennis sumringah "jadian?" tanya Janice seraya berpikir "boleh deh! Kita coba ya?" lanjutnya membuat aura keduanya terlihat berbinar – binar.
***


Setahun Kemudian


              Dennis masih berpacaran dengan mantan rivalnya. Hari ini Dennis sedang mengadakan pesta, Dennis nampak tampan, dewasa dan berwibawa dengan mengenakan kemeja putih dan blazer hitamnya. Janice baru saja menginjakkan kakinya di rumah mewah Dennis, seakan tak mau kalah dengan Dennis Janicepun nampak cantik dan anggun sekali dengan gaun pendek berwarna putih yang dihiasi pita berwarna sama di bagian perutnya. Rambut lurusnya tergerai indah dengan dihiasi sebuah pita mungil berwarna putih dan kecantikkannya semakin lengkap dengan sebuah kalung berliontin cincin di lehernya serta kakinya yang menggunakan higheels putih menambah kesempurnaan penampilan anggunnya malam ini.
            Dennis terpukau melihat penampilan kekasihnya yang nampak lebih cantik dari hari – hari biasanya. Malam ini kekasihnya itu benar – benar cantik bak bidadari, ia memandangi Janice dari ujung kaki hingga ke ujung rambut dengan rasa kagum yang tak sudah – sudahnya "hai Dennis!" sapa Janice tersenyum lebar membuyarkan lamunan Dennis "ekh, hai juga!" balas Dennis terlihat gugup "Janice kamu malam ini… malam ini…" lanjutnya terbata – bata membuat Janice memotong ucapannya "kenapa?" tanya cewek berbibir imut itu dengan nada lembut "cantik banget" jawab cowok ber-IQ tinggi itu tersipu malu "makasih, kamu juga" Janice tersipu malu "hah? Aku juga cantik maksud kamu?" tanya Dennis dibumbui canda "hehe… bukanlah! Tapi maksudku kamu juga malam ini ganteng banget" jawab Janice tersipu manja "ooh.. kirain aku, aku juga cantik? Hehehe…." Sahut Dennis nyengir "oh ya aku kenalkan kamu sama orangtuaku yuk!" seru Dennis "boleh, yuk!" balas Janice, kemudian Dennis menggandeng tangan bidadarinya itu dengan penuh rasa bangga.
              "Mah, Pah! Dennis mau kenalin pacar Dennis, boleh enggak?" Dennis meminta izin terlebih dahulu kepada orangtuanya "tentu boleh dong! Mana orangnya?" sahut Ibu Dennis yang nampak anggun sekali malam ini "terima kasih Mah, Pah, aku panggil dulu ya orangnya? Tunggu sebentar!" sahut Dennis ceria
           Beberapa saat kemudian ia sudah membawa pacar tercintanya ke hadapan orangtuanya "Mah, Pah! Ini pacarku, Janice ini Mama – Papa ku" ujar Dennis memperkenalkan ketiganya. Kedua orangtua Dennis dan Janice sama – sama tersentak seakan – akan mereka sudah saling mengenal lebih dulu sebelum diperkenalkan oleh Dennis. Ketiganya menatap penuh makna membuat Dennis benar – benar merasa aneh dan tak mengerti apa yang sedang terjadi diantara mereka "ada apa sich? Kalian sudah saling mengenal ya?" ujar Dennis tak dihiraukan ketiganya "kenapa ekspresi kalian seperti itu?" lanjut Dennis. Dennis melihat Ibunya dan Janice menitikkan airmata, membuat tanda tanya di kepalanya semakin besar. Ketika Dennis sedang berada dalam pikirannya tiba – tiba Janice berlari pergi dari hadapan Dennis dan kedua orangtuanya "Janice! Tunggu!" teriak Dennis yang baru terbangun dari alam bawah sadarnya dan segera berlari mengejar Janice.
               Janice menghentikan sebuah Taksi, namun langkahnya tertahan oleh tangan Dennis yang menarik tangan Janice "sebenarnya ada apa sich kamu dengan orangtuaku? Please jelaskan ke aku!" sahut Dennis menatap kedua bola mata Janice "kamu tanya aja ya sama orangtua kamu! Mulai sekarang kita lupain aja ya hubungan kita! Kita putus!" jawab Janice membuat Dennis seperti tersengat listrik bertegangan tinggi. Janice membuka kalung yang selalu ia kenakan dan meletakkan di tangan Dennis "kasih ini ke orangtua kamu! Makasih ya, Denn. Selamat malam" ujar Janice seraya menangis lalu masuk ke dalam sebuah Taksi yang sudah menunggunya sedari tadi. Di dalam Taksi Janice terus menangis terisak – isak "maafkan aku Dennis! Kita enggak mungkin melanjutkan hubungan ini meski aku sangat menyayangimu" ujar Janice dalam hati membuat tangisnya memecah keheningan.
             Setelah pesta usai, Dennis segera meminta penjelasan dari kedua orangtuanya "ini apa? Kenapa Janice punya kalung yang liontinnya merupakan pasangan dari liontin punyaku? Di liontin Janice terukir nama 'A-N-A' dan di liontinku terukir 'R-I-Y' kalau digabungkan jadi nama Mama 'Riyana'. Apa maksud semua ini? Ada hubungan apa antara aku dan Janice yang belum aku tahu?" ujar Dennis penuh emosi sehingga nadanya sedikit menyentak "aku harap jawaban kalian bisa diterima oleh akal sehatku, jelaskan yang sebenarnya Mah, Pah!" lanjut Dennis lemas.
           Kedua orangtuanya masih terdiam dan Ibunya hanya bisa menangis "kamu sebenarnya punya saudara kembar, namun sejak bayi kalian harus dipisahkan. Kami hanya memberi kalung berliontin nama Mama kalian agar kelak kalian bisa mengenal satu sama lain" ujar Ayah memecah keheningan sekaligus membuat Dennis merasa dadanya terhantam benda berat sehingga dadanya terasa sangat sesak "maksud Papa? Janice?" sahut Dennis terbata – bata "iya dia saudara kembar kamu. Kami terpaksa memisahkan kalian karena…" ujar Ayah sejenak mengatur nafasnya "dulu kalian kembar siam, tubuh kalian menyatu. Dokter melakukan operasi pemisahan tubuh kalian dan kami bernadzar jika keduanya selamat kami akan memberikan salah satu anak kami kepada orang lain dan ternyata kalian berdua selamat. Saat itu kami memilih kamu karena kondisi kamu yang paling lemah setelah operasi sedangkan Janice kondisinya semakin membaik" papar Ayah menitikkan airmatanya seraya terus mengingat masa sulit itu "saat itu sahabat Mama bersedia merawat Janice, meskipun Janice dirawat dan dibesarkan oleh sahabat Mama bukan berarti Mama tidak pernah menengoknya dan sahabat Mamapun sudah menjelaskan pada Janice bahwa Mama dan Papa adalah kedua orangtua kandungnya, kita juga sudah menjelaskan bahwa ia mempunyai saudara kembar namun kami lupa memberitahu nama kamu. Maafkan kami sayang! Maafkan Mama" sambung Ibunya seraya memeluk tubuh Dennis yang berdiri terpaku seraya meneteskan airmata.

***


            Dennis belum bisa menerima kenyataan, ia jadi lebih sering menyendiri, melamun, mengunci diri di kamarnya dan tidak fokus dengan pelajarannya sampai – sampai ia sering ditegur Guru di kelasnya. Janice mencoba memberanikan diri untuk menyapa Dennis. Dennis sedang duduk melamun di salah satu bangku taman sekolahnya, tatapannya kosong. Dari kejauhan Janice melihat Dennis dan segera menghampirinya. Janice duduk di samping Dennis "enggak nyangka ya? Ternyata kita saudara, dunia itu sempit banget" ujar Janice memulai pembicaraannya dengan mantan kekasihnya itu "iya, ternyata gue salah jatuh cinta" tanggap Dennis "enggak! Bukan Cuma loe tapi kita! Kita udah salah jatuh cinta. Kenapa sih kita harus mengalami hal lucu kayak gini?" ujar Janice memperbaiki ucapan Dennis "lucu loe bilang? Ini tuh bukan lucu tahu enggak? Ini tuh konyol. Loe sadar enggak sich kalo perasaan kita selama ini tuh bukan sayang sebagai saudara tapi sayang sebagai kekasih dan kedua perasaan itu tuh berbeda? Gue enggak habis pikir aja ternyata gue punya saudara kembar dan parahnya lagi.. gue jatuh cinta sama kembaran gue sendiri. Gila kan? Dunia ini tuh udah bener – bener gila" tukas Dennis menyentak seraya memelototi Janice "kenapa sich loe enggak belajar untuk terima kenyataan? Kenapa loe terus mengeluh dan menyesali sesuatu yang udah terlanjur terjadi? Kenapa loe enggak berusaha untuk memperbaiki takdir yang udah terlanjur salah? Jadi penyesalan loe itu enggak ada gunanya,ngerti loe?! Belajar menerima kenyataan meskipun kenyataan itu sangat menyakitkan karena selamanya loe enggak bisa bersikap seperti ini terus! Percaya sama gue kalo menerima kenyataan itu jauh lebih melegakan daripada terus menyesali yang udah terjadi! Paham?" sahut Janice seraya menatap mata Dennis dekat – dekat dan kemudian pergi meninggalkan Dennis yang masih termangu.
             Setelah sekian lama merenungkan ucapan Janice, akhirnya Dennispun berusaha menerima kenyataan pahit tersebut "Mah, Pah maafkan sikap Dennis selama ini yah karena Dennis udah egois banget. Mulai sekarang Dennis akan berusaha menerima Janice sebagai saudaraku dan Dennis mau belajar menyayangi Janice sebagai saudara bukan sebagai pacar lagi. Dennis sadar ini sulit tapi Dennis akan berusaha semampunya. Dennis hanya butuh waktu untuk beradaptasi dengan kenyataan" ujar Dennis seraya duduk di antara kedua orangtuanya "Mama dan Papa mengerti sayang! Enggak semudah itu menerima kenyataan yang sebenarnya sangat menyakitkan buat kamu. Kami mengerti, bukan kamu yang salah tapi ini murni kesalahan kami. Maafkan kami ya sayang" sahut Mama seraya memeluk Dennis dengan menitikkan airmata "semua butuh proses sayang, Papa yakin seiring berjalannya waktu kamu dan Janice akan bisa saling menyayangi layaknya saudara yang memang sudah ditakdirkan hidup bersama. Oke sayang?" sahut Papa, Dennis menganggukkan kepalanya dan memeluk tubuh tua Papanya seraya menangis.


***


              Di kelas Dennis menghampiri Janice yang sedang sibuk menulis tugasnya "Dennis?" sahut Janice kaget melihat Dennis berdiri di hadapannya "Janice, loe mau kan jadi saudara gue?" sahut Dennis membuat Janice melongo "hah? Apa? Bisa diulangi enggak cause gue mendadak bolot!" ujar Janice seraya menghampiri Dennis "iya, loe mau kan jadi saudara gue?" Dennis mengulangi kata – katanya dengan nada agak mengeras, kali ini Janice terdiam dan hanya tersenyum simpul menatap Dennis dengan menitikkan airmata "loe udah sadar?" tanya Janice "iya, gue bakal berusaha ikhlas ngejalanin semuanya meskipun berat. Loe mau ya bantu gue?" ujar Dennis tersenyum simpul "dengan senang hati" balas Janice tersenyum dan menangis terharu "jadi sekarang kata saudara?" tanya Dennis dibalas anggukan kepala Janice setuju dan keduanya berpelukkan erat sebagai saudara bukan sebagai kekasih lagi.






                                                                             SELESAI

0 comments:

Post a Comment

Tulis Komentarmu Di Sini Kawan!